Aku sering sedih. Beberapa kali juga patah hati. Dan let me make it clear here, aku juga sering nangis. Aku mudah meluapkan kebahagiaan, aku mudah mengekspresikan kejengkelan atau kebetean terhadap hal-hal kecil, aku mudah marah, aku mudah tersinggung, aku mudah nyolot dan berkomentar pedas, tapi aku sulit menjelaskan kesedihan.
Maka, teman-teman, aku bukan orang yang se-easy-going seperti kalian bayangkan. Jika aku menceritakan kronologis cerita sedihku dengan lancar dan tanpa beban, itu karena biasanya kejadian udah lewat berbulan-bulan. Jika kalian selalu heran, " Kok lo biasa aja sih cha?", itu karena semua kejadian sudah aku endapkan dan bukan karena aku orang yang santai kaya pantai. Aku udah recovery lewat tangis-tangis panjang tiap malam, di dalam kamar, sendirian. Aku menyembuhkan diriku lewat tulisan-tulisan, buku-buku yang aku baca, dan obrolan panjang dengan satu atau dua orang yang pada mereka aku nyaman berbagi kesedihan.
Juga bagi orang-orang tersayang yang pernah merasa 'sendiri' karena melihatku begitu santai melanjutkan hidupku setelah pertengkaran hebat, masalah pelik, atau putus pacaran, adalagi supporter2 pihak 'lawan' yang membumbui situasi seakan-akan aku punya banyak alasan tak masuk akal untuk tidak merasa sedih, aku tak perlu mengundang kalian semua dalam perjamuan tangisanku bukan? Aku tak perlu mengirim sms2 sedih berisi kata-kata putus asa atau niatan cuti panjang untuk travelling ke bukit tinggi, apa kalian akan membantu?
Aku sering tiba-tiba menangis saat nulis puisi, bahkan saat antre dokter, begitulah caraku berteman dengan kesedihan. Aku biarkan dia mengendap, aku nikmati setiap sakit yang terasa, dan aku biarkan dia mengirimkan sinyal agar air mata sedikit melegakan. Aku pernah nangis sampai ketiduran, tapi gak perlu dibahas kan? Aku cukup telpon teman terdekatku dan melontarkan joke, " Eh, kak, aku jadian aja ya sama damdam, kayaknya lucu..." dan cinda akan menyahuti " Kamu bener2 patah hati, cha, kalau gak, gak mungkin kamu kepikiran jadian sama damar....". Dan sudah, aku cukup bahagia ada orang yang tau bahwa aku sedih tanpa harus mengucapkan kata-kata mendayu-dayu.
Kalau aku akhirnya terlihat sangat cepat melanjutkan hidup, itu karena aku tak punya pilihan lain. Proses recovery ku panjang, di tiap2 waktu sendirian, jadi kalau aku menunggu recovery selesai, bisa-bisa aku harus cuti untuk urusan khusus selama 5 bulan dan cuti kuliah satu semester penuh, itupun bukan jaminan. Bandingkan dengan kalian, nangis dimana-mana dan sedih seharian selama beberapa minggu, dan sebulan kemudian sudah bisa tertawa lepas tanpa bebas menggantung! Karena itu, di saat-saat bersosialisasi dan menjalankan kewajiban, aku harus mengesampingkan semuanya...
Aku gak menuntut semua orang mengerti sih, karena aku bahkan sampai sekarang masih sulit menerima orang-orang yang sulit mengekspresikan perasaan sayang. Ini cuma sedikit memoar, kalau-kalau suatu saat ada yang masih aja nanya kenapa aku biasa aja menghadapi kejadian menyedihkan, aku tinggal dia suruh baca postingan ini. Hiyaaah, sok artis lah pokoknya ;)