Tampilkan postingan dengan label mom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mom. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 April 2010

Someone Called Mom


Relationship saya dan mamah mungkin bukan hubungan ibu dan anak paling ideal menurut literatur manapun.  Walau begitu, saya sangat bersyukur bahwa untuk ukuran seseorang yang lahir di tahun 1959, mamah sangat berpikiran terbuka, apalagi dalam hal menerima ide baru dan pemikiran anak-anak yang bau kencur seperti saya.

Kadang yang membuat saya heran adalah, pemikiran kami seringkali sama, persis. Dan dalam hal-hal tertentu membuat kami berselisih karena saya suka menabrak sesuatu yang stagnan, sedang mamah lebih suka memelihara sesuatu itu hingga nantinya akan berbelok arah secara perlahan. Saya keras kepala, sedangkan mamah, anak pertama dari tujuh bersaudara, tentu selalu punya lebih banyak referensi untuk bisa keras kepala secara masuk akal.

Dari mamah saya mengenal istilah wanita yang bekerja sekaligus istri, ibu, sekaligus anak pertama dari keluarga besarnya. Mamah juga yang sejak saya SD sudah menekankan bahwa, wanita harus bekerja, bukan hanya karena materi yang akan didapatkannya serta faktor berjaga-jaga jika suatu hal buruk terjadi di keluarga, tetapi juga karena wanita adalah manusia yang perlu membuktikan sesuatu bagi dirinya sendiri. Suatu hari, bertahun-tahun kemudian, saya baru mengenal satu kata bernama aktualisasi. 

Mamah, sarjana psikologi pendidikan, yang sangat saya banggakan. Bukan hanya karena dia ibu yang melahirkan saya, tetapi dia sebagai seseorang pribadi yang sangat rasional, yang syukur alhamdulillah diturunkan pada saya. Tentu dengan pengertiannya yang nomer satu kepada semua orang disekelilingnya. Dari semua orang yang saya kenal, mamah adalah orang yang paling tepat mengulur dan menarik benang di kehidupan, dia tau pasti kapan waktunya tidak berkomentar apa-apa, dan kapan waktunya menelpon saya sehari lima kali, 3 kali menanyakan apakah saya sudah makan atau belum, dan dua lainnya apakah saya baik-baik saja.

Dari mamah saya punya sifat kuat, sok kuat, dan sekaligus tidak mau dikasihani. Mamah adalah orang yang paling jarang mengeluh (kecuali ke papah saya :p), selalu ikut sibuk ngurusin masalah saya dan adik-adiknya sampai ponakannya, tapi membuat benteng tinggi jika itu menyangkut masalah pribadinya. Benteng berjendela tinggi itu baru akan dibuka, jika dan hanya jika, mamah dan kadang papah sudah benar-benar tidak bisa menyelesaikannya sendirian. Entah dengan kekuatan dari mana, 1,5 tahun yang lalu, mamah menceritakan hasil pemeriksaan dan biopsi yang menunjukkan bahwa ada sel kanker di payudaranya hanya kepada  sahabat terbaiknya, Papah. Vonis itu tidak diketahui siapapun sampai beberapa hari menjelang operasi pengangkatan benjolan di payudara kanannya, itupun hanya beberapa orang terdekat di keluarga. 

Mamah adalah pasien kemoterapi terhebat dan terceria yang saya temui di RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Dia selalu bercerita betapa beruntungnya dia mendeteksi kanker itu sebelum terjadi penyebaran ke kelenjar getah bening, mendapatkan salah satu dokter onkologi terbaik di Indonesia, dan salah satu dari pasien penerima donor jenis kemo yang termahal dan terbaik. Saya sedih, tentu saja, saya pernah mengalami patah hati yang dalam saat itu. Tapi, segalanya terobati saat saya, mamah, dan papah, tetaplah keluarga disfungsi yang bukannya mengasihani mamah dan bermellow-mellow, tapi menertawakan keplontosan kepala mamah saat rambutnya total habis pada beberapa kemo terakhir. Dan sebulan lalu, 6 bulan setelah kemo terakhir, mamah dinyatakan bebas dari kanker payudaranya.

Mamah yang mengajari saya arti komitmen, saya ingat, seperti yang pernah saya tulis sebelumnya saat saya ngeyel mau kuliah di Jogja padahal orang tua saya pengennya saya di Surabaya atau Malang, mamah akhirnya bilang, "Kamu boleh kuliah di Jogja, asal keterima UGM". Atau saat saya SD, sesimpel, "Kamu boleh beli rollerskate, berapa tabungan kamu? Nanti mama tambahin 30% nya. Kalo belum ada tabungan, ya belum bisa beli". Mamah adalah teman diskusi dan negosiasi saya yang paling sepadan :).

Jaman SMP saya kesel setengah mati karena harus punya uang saku bulanan di saat teman-teman saya bebas minta uang setiap harinya. Bisa dibayangkan apa yang dilakukan mamah pas saya akhirnya kuliah di Jakarta, wew, intinya selama kuliah saya bukan tipe mahasiswa yang tiap bulan minta kiriman. Uang itu udah ada, sampai saya lulus kuliah, jumlah yang besar memang, cukup untuk HIDUP 3 tahun, yang akhirnya membuat saya ngajar privat anak SMP buat beli-beli novel dan menjalankan segala hobi saya yang banyaknya ampun-ampunan. Tapi sekarang? Mensyukuri cara mamah mengajari saya tentang perencanaan keuangan, langsung praktek, sejak kecil. And it works.

Satu postingan gak akan cukup menuliskan betapa besar kekaguman dan cinta saya ke mamah. Dan saya mau melakukan apa saja untuk membuat wanita ini bahagia. Mungkin tidak sebesar dia mampu membahagiakan saya, tapi paling tidak saya ingin membuat banyak momen dimana saya bisa melihat wajahnya yang bersinar saat dia bilang, "Yang, kalau kamu seneng, mamah berkali-kali lipat lebih seneng dari kamu!".

Tahun lalu, saat saya ulang tahun, mamah mengirimkan paket ke kantor berisi kalung dan gelang mutiara, sambil disertai surat yang kalimat pembukanya adalah, Mamah udah lama banget ya gak kasih kado di ulang tahun kamu. Dan itu membuat saya menyembunyikan tangis dibalik monitor komputer. Lusa, 9 April, mamah saya ulang tahun. Saya belum kepikiran mau ngasih kado apa, kecuali doa yang tiap hari saya panjatkan agar mamah selalu dilimpahi kesehatan dan semangat yang tidak pernah habis menyala-nyala, menjadi partner terbaik bagi saya dan papah saya.

"Selamat ulang tahun (3 hari lagi) ya mam, aku mencintaimu, sampai perih hatiku.*"


*dari iklan susu ultra di suatu hari ibu, entah tahun berapa saya lupa.

Rabu, 10 Februari 2010

Tipically Me.

Oke saya ngaku.
Saya lagi pengen beli ini:
I blame my mom, di saat ibu-ibu lain nyuruh anak ceweknya belajar masak atau beres-beres rumah, mamah malah nyuruh saya belajar njahit pake mesin jahit manual ber-merk Butterfly legendaris itu. Di saat ibu-ibu laen beliin barbie se-baju-bajunya atau sekalian ga usah dibeliin sama sekali, ini malah beliin barbie dengan baju default dan saya cuma dikasih kain-kain perca sisa proyek-proyek pribadinya mamah buat bikin baju barbie sendiri.

I blame my mom to be such a talented seamsress. Okay, I envy her actually. Iri kalo dia beli kain 15 ribu se-meter nya dan VOILA! tiba-tiba bisa jadi baju yang mirip sama yang baru kami lihat di majalah. Iri sama proyek-proyek DIY nya. Iri kalo pas ada diskon gede-gedean, mamah ga akan peduli size, kegedean atau kepanjangan is not a big deal.  Apalagi nih kalo liat saya abis beli baju yang simpel tapi harganya agak mahal, trus mamah komen, "Baju kaya gini nih mamah dulu pas SMA aja udah bikin sendiri buat tante-tantemu pas lebaran...". Truuuus kenapaaaa maaaaaaaah???? Well, i envy her, very much.

Tapi  secara ya, bulan depan saya ada satu rencana gila bareng temen2 lama saya buat.....uhm......rahasia ah ntar aja ceritanya, yang butuh dana tidak sedikit, jadi ya maaf ya sayang, nanti aku beli kamu, nantiiiiiii banget sebelum tahun baru lagi.....

wait me,

Senin, 01 Februari 2010

Graduation Day


Wisuda STAN 2006: 
IPK dibawah keinginan walau masih duduk di barisan paling depan
Ga terlalu menganggap sebagai pencapaian, karena STAN bukan impian, aku berusaha lulus dengan nilai tinggi cuma karena pengen membuktikan aja kalo aku gak bodoh dan pengen bikin mama papa bangga.
Waktu itu 2,5 tahun pacaran dan si pacar dateng pas wisuda.

Wisuda UI Januari 2010:
IPK beyond my expectations
Pencapaian banget karena kuliah sambil kerja di tempat yang aku suka, aku pengen nilai bagus karena emang aku pengen aja. 
Pacar beda sama dulu, tapi baru putus di bulan yang sama dengan waktu wisuda.

Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat sentimetil buat aku, karena aku ini anak yang rebel. Aku selalu merasa punya hak untuk memperlakukan hidupku seperti kemauanku. Aku yang paling berhak. Saking ga pernah mau nurutin kata orang tua, mamah pernah bilang, "Ya udah, terserah kamu mau ngapain aja, mau nakal kayak gimana, yang penting kamu PINTER."

Se-rebel-rebelnya aku, aku berusaha memegang suatu komitmen. Jadi, bagi orang yang tau caranya, mengendalikanku itu gampang. "Kamu boleh ikut kegiatan apa aja, yang menurutmu menyenangkan, tapi mamah minta satu hal, jangan ikut naik gunung". Atau, statement papah yang pengennya aku kuliah di Surabaya aja, tapi aku secara frontal menolak, "Gapapa kalo gak mau kuliah di Surabaya, kamu boleh kuliah di mana aja asal keterima di negeri, kalo ngga keterima UM UGM atau SPBM, kamu kuliah di Surabaya aja". Aku suka dipercaya, dan aku akan berusaha setengah mati menjaga kepercayaan orang lain. Sampe detik ini, walau pengen banget, aku gak pernah ikutan pecinta alam karena komitmenku sama mamah. Dan tentang menjadi PINTER, yang ukuran gampangnya adalah nilai, aku berusaha mati-matian mengejar target sebagai konsekuensi kebebasan yang udah diberikan kepadaku. 

Trus kenapa aku bisa masuk STAN?
"Mama Papa pengen kamu masuk STAN, tapi terserah kamu mau ambil atau ngga. Setelah lulus STAN, kami ga akan mencampuri lagi semua keputusan tentang minat dan pendidikanmu lebih lanjut kecuali kamu yang meminta"

Great Deal, ha?
Dan sejak wisuda stan 2006 itu, orang tuaku benar-benar gak pernah mencampuri keputusanku tentang melanjutkan kuliah kemana, jurusan apa, nanti aku mau tetep kerja di sini apa pindah, aku mau belajar apa ngga, KECUALI aku meminta saran. 

Oh ya, have I told you that my Mom had a bachelor degree in "Psikologi Pendidikan"? Dan sepertinya mamah sudah menerapkan hasil kuliahnya ke anaknya dengan sukses, saudara-saudara!
  




Pic was taken by my superb bestfriend, kalo-kalo ada yang butuh fotografer spesialis candid, email me ya. He's great! *iklan di blog sendiri gapapa doong*

Senin, 30 Maret 2009

di Telpon, didengar oleh anak perempuan yang tiba2 ada alasan untuk ga belajar

Obrolan di telpon semalem sama mamah.

Mamah-yang-Cantik-Tapi-Absurd(MYCTA): Besuk ujian gak nduuuuk?
Aku-yang-Lagi-Ngeblow-Rambut(AYLNR): Iya ujian mam...
--suara bising hairdryer--
MYCTA: Lagi ngapain sih kamu?
AYLNR: Ngeblow, tadi abis keramas...
MYCTA: Oh, ya baguslah, kan besok ujian ya?
AYLNR: hah? iya sih... Tapi aku belum belajar...
MYCTA: ya gak papa, yang penting kan rambutnya besok bagus kan...
AYLNR: iya sih, tapi aku belum belajar mammm...
MYCTA: emang kamu kemana aja tadi?
AYLNR: uhhmmm...(ragu2) hunting foto sama anak2 lomo...
--diam bentar--
AYLNR: mam?
MYCTA: iya, sik, mama sambil ganti channel tv... apaan? hunting foto? bagus dong, kan refreshing, biar ga stress kamunya...
AYLNR: ---krik krik krik--

Senin, 22 Desember 2008

Mom...

Ibu, aku mencintaimu sampai perih hatiku.


*Taken from: iklan susu ultra

Senin, 08 Desember 2008

diversity

Orang bilang perbedaan itu indah. Harmony in diversity... Kalau pacaran sama orang yang punya sifat sama persis pasti ga asik doong, gitu pendapat banyak orang. Tapi kalau menurutku sih, orang seringnya bikin kutub yang sangat ekstrim. Mentang-mentang perbedaan trus lawannya 'sama persis 100%'. Padahal sih nggak mesti se-ekstrim itu narik kutubnya.

Perbedaan memang diciptakan Tuhan sebagai berkah. Tinggal manusianya aja bisa memanfaatkan perbedaan itu untuk tujuan kebaikan atau ngga. Pernah ngga berpikir, kadang sesuatu lebih 'mudah' kalau kita bareng sama orang-orang yang cocok atau event yang mirip atau sama dikit-dikit ama cara berfikir kita. Atau seneng ga kalau lagi ngumpul sama orang-orang dengan hobi yang sama, club motor, club buku, club ngafe, club apapunlah yang dibuat dengan anggota homogen.

Begitu juga dalam relationship. Walau perbedaan itu indah, tapi kalo beda banget hobinya, sifatnya, lingkungan maennya, wataknya, trus salah ngga ya kalo persamaan itu buatku bisa menimbulkan kenyamanan?

Ada masa-masa adaptasi, trus kompromi, ada juga waktunya kompromi yang terus-menerus itu menimbulkan kelelahan. Capek banget.

Jadi kawan, mengutip nasehat my super duper wonder Mom, bukan orang dengan persamaan yang harus kamu cari. Tapi orang yang dengannya kamu bisa mengkompromikan segala perbedaan dengan senang hati.

uhm, trus kalo capek gimana Ma?

Jawaban imajiner yang mungkin akan dijawab Mama:
Istirahat bentar, tunggu bentar. Kalau sampai besok kamu masih capek, berarti kamu masih harus mencari lagi.

Hehehe.

Rabu, 19 November 2008

--nothing--

Lagi pengen nulis tapi gak punya ide apa-apa, karena bulan ini been thru hard times...
Kayaknya gak ada waktu bentaaaar aja buat diem dan gak ngapa-ngapain. Lazy times sendirian di kamar sambil dengerin Mocca, sambil baca Go Girl! atau majalah2 teenagers ga penting, nonton such a dvd serial yang gak penting, atau sekedar bersenang-senang. Makan bebek kaleyo, SHOPPING, ke gramed, ke pasar baru, semuanya ga pernah.

Proyek-proyek ga ada yang jalan, belum beli kain di mayestik buat bikin rok bajakan-nya Zara (hahaha), belum ngirim cerpen ke majalah itu, belum bikinin masterplan marketingnya toko kecil sepupu-ku yang cantik, belum cat ulang kamar jadi warna ijo tosca, belum baca EMPAT novel baru,...Aaarrrrghhh...

Mama sakit, harus ngasi support sementara deep inside my heart juga sediiiiih bgt, tugas kuliah udah amit-amit lah, males ngomongnya, ujian tinggal bentar lagi, kerjaan lagi gak bisa kompromi, akhir tahun, pertanggungjawaban. Waktuku abis buat kerja dan kuliah,,.. Nilai-nilai UTS yang ga sesuai ekspektasi... Belum lagi social life yang terbengkalai...

Now i realize, this is what grown up person faced. And makes me want to roll back the time...


p.s:
I love you Mom...get well soon!!!! i'll be home next weekend ;)


p.s (again):
thx for you support, someone :P. Read this carefully, i'll pay back my bill!!!! this is an order, dear...