Tampilkan postingan dengan label nothing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nothing. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Desember 2011

Thank God

 Tuhan, terima kasih:

Untuk trimester kedua kehamilan yang sangat menyenangkan, dibanding trimester satu yang sangat horror. Mual yang hilang, selera makan yang meraja lela, rambut yang hampir gak pernah lepek walau keramas jarang banget, dan jerawat yang mulai berkurang walau wajah masih belang-belang. Udah nggak anti dapur dan bisa masak-masak lagi.

Untuk semua pengalaman dan pelajaran baru sampai bulan kelima kehamilan ini. Mulai yang bikin desperate semacam mual dan ngantuk yang gak masuk akal, sampai tendangan kecil dan suara detak jantung yang membahagiakan. Perubahan bentuk tubuh, perasaan ingin melindungi, dan cinta jenis baru yang tiba-tiba aku rasakan.

Untuk partner hidup yang selalu menenangkan. Mengambil alih semua pekerjaan rumah saat aku keliyengan dan susah makan. Tidak keberatan mengurus semua keperluannya sendiri, dan melakukan hampir apa saja yang aku inginkan. Suami yang setiap selesai dipijat punggungnya, selalu ganti memijat bahu dan punggungku.

Untuk hal-hal remeh temeh seperti pancake durian, sambel bu rudi, lipstik revlon 240, pure olive oil sariayu, body mist passion of manggis Dewi Sri,  jus tomat, celana aladdin, we love ABC, babycenter.com, indomie kari ayam yang semakin enak karena dimakan sebulan sekali, dan semuanya.

Terima kasih.


 

Kamis, 25 November 2010

Kerumitan yang Sederhana


Saya sama dia itu teman baik. Bisa kami berdua ngobrol berhadapan, sembari makan, tanpa pegang tangan atau gelendotan. Benar-benar asyik membahas apa saja. Lalu di suatu titik sadar, seperti melewatkan sesuatu, dan tiba-tiba pengen gandengan :).

Atau lagi duduk sebelahan, pegangan tangan, ndusel-ndusel, cerita tentang udara, trus tiba-tiba topik beralih gila. Gak lagi pegangan tangan, masa-masa merasa kami berdua ini ya cuma teman baik saja, apa itu pacar? Siapa pacarku? Ngapain kamu deket-deket aku? Yah semacam itu.

Saya tidak pernah merasa memulai sesuatu yang baru dengan dia. Rasanya cuma melanjutkan pertemanan tujuh tahun kami begitu saja. Seperti sesuatu yang berubah secara alami karena tumbuh. 

Tapi kalau ada yang tanya apa saya dan dia sering ribut? Nih ya, pernah gak ribut sama pacar? Ribut sama temen deket? Nah, dijumlah, itulah banyaknya keributan kami.

Dan kami baikan dua kali lebih cepat dari baikannya pacaran atau baikan sama teman dekat. Karena apa? Karena saat sedang ribut, saya kehilangan dia, sebagai pacar dan sahabat. Begitupun sebaliknya. Kerumitan yang sederhana, atau kesederhanaan yang rumit?


Rabu, 04 Agustus 2010

Waktu Sudah Menjawab


Begini. Biar lebih jelas, ketidaksengajaan ini memberikan fakta baru yang mematahkan semua alibi yang sudah dibangun di episode sebelumnya. Seperti mati-matian menyembunyikan identitas sebagai pembocor rahasia negara, membangun alibi mulai dari rekayasa family tree sampai menyusun segala kemungkinan untuk menciptakan misi. Masuk ke kalangan istana untuk menguatkan kuasa, kesana-kemari membuktikan dia akan paripurna sebagai nasionalis sejati. 

Negara rela. Toh satu orang bajingan tidak akan memberikan keuntungan apa-apa bagi penerimaan negara. Apalagi nama baik sejarah yang telah dituliskan di masa perjuangan. Negara diam. Menunggu. Membiarkan.

Maka jika aku adalah negara, satu hari di mana pembocor rahasia akan menjadi warga negara kehormatan di negara lawan, aku akan datang di acara pelantikan. Dengan kebanggaan dan dagu terangkat maksimal. Menyaksikan pengakuan yang terang, pematahan alibi yang disusun bertahun-tahun lalu. Di sanalah aku akan berdiri. Tegak. 

Tak perlu pembuktian hukum. Tak perlu sanksi sosial. Tapi jika saat itu, matamu masih bisa menatap mataku, kuanggap itu sebagai liur yang sudah diludahkan, lalu sekarang kembali kau telan.