Rabu, 29 September 2010

In My Very Humble Opinion

Saya, perempuan, tidak gay, tidak atheis, tidak menganut aliran yang dianggap sesat oleh negara, tidak memiliki kepentingan politik apapun, pernah menjadi volunteer Q Film Festival beberapa tahun lalu. 

Ya bahwa dengan festival itu membukakan mata dan hati saya lebar-lebar bahwa gay itu eksis di dunia nyata, tidak hanya di novel karangan Dewi Lestari. Ya bahwa disitulah kali pertama dalam hidup, saya berusaha tidak menyangkal bahwa ada percik asmara antara dua orang sesama jenis kelamin yang duduk bersebelahan datang menjadi penonton. Ya bahwa salah satu produsen kondom menjadi salah satu sponsor acara itu dan membagikannya gratis sehingga saya akhirnya dalam hidup saya, tau seperti apa bentuknya kondom, dan akhirnya tahu bahwa yang strawberry aromanya benar-benar mirip permen-permen strawberry. Ya bahwa di penutupan festival itu adalah kali pertama, dan saya harap sekali-kalinya saya melihat ada yang berciuman, laki-laki dan laki-laki.

Tapi, festival itu tidak mengganggu preferensi seksual saya, bahkan tidak untuk berpikir sekedar ngetes
apa bener saya nggak gay, karena saya tau saya tidak gay, mungkin sama seperti sebagian orang yang they just knew that they're gay. Sebelum dan sesudah menjadi volunteer sekaligus penonton di beberapa film, tidak juga mengubah pandangan saya tentang seks bebas. Saya tetap tidak menganut faham free sex dan berganti-ganti pasangan.Saya juga masih berpegang pada ajaran agama saya, festival ini sama sekali tidak membuat saya jadi meragukan kebenaran setiap ayat dalam kitab suci agama saya. Keberadaan festival film ini SAJA, menurut saya, tidak bisa dianggap sebagai perusak moral bangsa.

Saya menghargai setiap karya, inisiatif kreatif, kesetaraan dan tanggung jawab. Usaha-usaha menyangkut penghargaan terhadap hak asasi manusia, pemahaman akan segala bentuk pelecehan, akan mendapatkan dukungan dari hati saya yang terdalam. Saya mencintai seni, karena dia berisi banyak kebahagiaan yang bisa saya ambil untuk hidup saya. Saya menghargai preferensi seksual setiap orang, sebesar saya menghormati pendapat setiap orang yang berpegang pada agama bahwa gay adalah sebuah kesalahan. Dosa adalah bagian Tuhan, benar dan salah adalah kerelatifan yang absolut. Kebebasan berkarya harus diapresiasi sebagai suatu usaha memasyarakatkan karya, menumbuhkan keinginan untuk berpikir dan menganalisis sehingga publik semakin cerdas.

Tanggung jawab adalah tidak menjadikan seni sebagai tameng untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan keresahan, sama seperti tidak menjadikan agama sebagai tameng kekerasan, dan tidak menjadikan kekuasaan hanya untuk mencari kambing hitam.

Tanggung jawab adalah milik semua pihak. Mungkin itu yang beberapa hari ini dilupakan.

In my very humble opinion,


P.S: Mohon dipahami bahwa posting ini adalah suatu kesatuan. Setiap paragraf saling berkaitan sehingga tidak bisa diinterpretasikan secara parsial.Thanks :)

7 komentar:

Ian D. Sitompul mengatakan...

hahahaha,kemarin di sby sempet ada festival serupa,sayang aq ga dateng.sepertinya seruuuuuu...
*honestly,i'm not a gay

'IcHa' mengatakan...

perlu lo untuk dateng sekali2,, untuk membuka cakrawala :)hehe

riana mengatakan...

Love your post, great writing, as a 25-yr-old-girl, this post is just awesome, so mature, I wish there're more open minded people just like you, so the world peace is not just a dream.....

'IcHa' mengatakan...

hihihi *blusing*
thaaaaaaaaaaaaanks, many bunches.

Anonim mengatakan...

Hear hear! -ska-

'IcHa' mengatakan...

hehehe! Kapan kamu lairan, ckaaaa???

udinnya-dyra mengatakan...

"...tau seperti apa bentuknya kondom, dan akhirnya tahu bahwa yang strawberry aromanya benar-benar mirip permen-permen strawberry."

hahahaha.. saya jadi inget pas pertama kali liat kondom, malah saya jadiin kaos tangan, hahahaha...
maap numpang ngakak..