Jumat, 2009 Juli 10

New baby love


polyvore ternyata tidak terlalu menarik, masih cinta sama shopstyle, tapiii begitu dapet link ke looklet, i looooove loooove looove this place... Bener2 ngerasa lagi jadi fashion stylist...
Ayo ayo aku tunggu di sana, my nick name is Poppy. Kenapa Poppy? Its a long long story, darl...

Senin, 2009 Juli 06

pada sebuah kota

Tepat saat kereta berhenti di jalur tiga,
dan penjual berseragam menjajakan bakpia,
pertama kulihat senyummu lewat deretan toko yang hampir buka,
juga pada tiap kayuhan becak yang berat di jalan menanjak.
Tawamu menyatui derap dokar ramai-ramai menuai jarak,
hangat melampaui matahari pagi-pagi,
dalam pantulan papan nama hotel melati.
Pada reruntuhan di samping taman sari,
dan sekelebatan museum affandi.




Kota ini mirip miniaturnya yang tersimpan jauh di sebalik kemejaku,
mungkin karena keduanya melafalkan satu nama yang punyamu.

Jumat, 2009 Juli 03

when we fight


At the time you left my house without saying any word, we both know me and you throwing the words i am sorry. And in one blink we saw each other, i knew you say i love you just like everynight before.

Rabu, 2009 Juli 01

The Simple Things that Makes my day #2

Nemu tempat baru yang gak terlalu hingar bingar, gak terlalu happening di kalangan ABG2 gaol, tapi menyenangkan... Berasa dapet harta karun di tengah hutan!
  • Kopitiam Oey, tempatnya di Jalan Sabang, udah hampir ujungnya sabang yang ke arah Kebon Sirih. Kopitiam itu artinya 'warung', biasa dipake sama orang2 Melayu, dan yang punya adalah the famous Bondan Winarno. Tempatnya kecil, nyempil, kapasitasnya paling buat 50 orang. Bangunan sederhana, dengan dapur yang terlihat dari tempat duduk. Pelayannya ramah, dan keramahannya TULUS, itu yang paling jarang ditemui di cafe-cafe paling mahal di jakarta raya sekalipun! Kalo dateng, kita suka dikasih puisi-puisi di print di kertas kecil2, pas dateng yang pertama dapet 'Hujan Bulan Juni' dan yang kedua lupa dapet puisi siapa. Makanannya sih biasa aja ya rasanya, tapi minumannya hoaaaah minuman khas daerah yang enak2 dan bervariasi. Aku udah nyoba Teh Daoen Mint sama Teh Jahe Salatiga, si partner pesen es kopi apaaa gitu. Favorit sih so far masih teh daun mint itu, tehnya beneran dikasi daun mint asli... Harganya? Buat perbandingan, hot tea di Spageddies atau di resto lain yang pake Dilmah Tea harganya 23ribu-an, di Kopitiam Oey gak sampe 10ribu!! Sampai2 seorang blogger pernah menulis bahwa harganya sangat murah sampai tidak masuk akal :p
  • Plaza Indonesia XXI, udah lama pengen nonton di sini, dan ternyata tempatnya enaaaaak. Yang terpenting banget sih ga rame dan crowded kaya Djakarta Theater atau eX XXI, masa ya dateng jam 19.10 masih bisa dapet tiket nonton transformer yang jam 19.15?! hah? aku sama si partner aja sampe kaget banget, kita ngejar yang jam8 sebenernya, so-called-transformer gitu loo,. lhaaah kok yang 19.15 masih ada! Langsung cinta deh! Mana cafe XXI nya gedeee trus kursinya enak, ada layar gede juga yang kemaren kebetulan nyetel Michael Bubble. Huhuhu, sukaaaa... Satu-satunya kelemahan mungkin adalah layarnya standarlah ya, padahal udah berharap layarnya yang superb, itu yang studio 3, ga tau deh studio lainnya. Tapi,,soundnya boleh deh diadu sama blitz... Si partner juga seneng sama tempat parkirnya PI (apa coba? aku sih parkir dimana juga sama aja,hoho)...Those two things really makes my day!!! Silahkan dicoba, kak...


Pictures from:
amesite.wordpress.com
www.skyscrapercity.com

Senin, 2009 Juni 29

Berkaca Itu Tidak Dosa

Hubungan Indonesia-Malaysia yang gak asik dari banyak sisi, salah satunya masalah budaya, akhirnya mendorong budayawan Indonesia dan Malaysia mengadakan dialog. Lupa kapan persisnya, yang pasti salah satu budayawam Indonesia kurang puas dengan pernyataan2 Malaysia, salah satunya adalah penggunaan kata 'Indon' yang merujuk pada masyarakat Indonesia, negara Indonesia, dan segala macam yang menyangkut Indonesia. Dalam dialog itu dibahas bahwa warga Indonesia (saya termasuk salah satunya!) TIDAK SETUJU disebut Indon, karena rasis, berkonotasi negatif, dan merendahkan. Budayawan Malaysia menerangkan bahwa tidak ada niatan untuk melecehkan bangsa Indonesia. Indon hanya singkatan, agar lebih mudah menyebut kata Indonesia, itu saja. Bukan rasis, bukan merendahkan. Lalu, budayawan Indonesia secara jelas mengungkapkan "Apa sulitnya mengucapkan kata Indonesia secara utuh?".

Forum-forum banyak membahas tentang istilah 'Indon', dari yang kritik biasa sampai hujatan, lengkap. Sampel menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memang 'tersinggung' dengan sebutan itu.

Lalu, orang-orang Jakarta (dan orang suku Jawa) yang tidak suka dengan sebutan Indon, apakah merasa pernah menyebut "Mudik ke Jawa ya?". Jika 'Jawa' refers to Pulau Jawa dan diucapkan oleh orang-orang yang sedang berada di luar PULAU Jawa, ungkapan 'ke Jawa' tidak bermakna bias, Jawa merujuk pada tempat. Tapi kebanyakan penggunaan 'ke Jawa' oleh warga yang tinggal Jakarta ini ditujukan kepada kota-kota di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY, Wilayah Jawa Barat dan Banten tidak disebut dengan Jawa. Sehingga penggunaan kata 'ke Jawa; merujuk kepada wilayah yang didiami SUKU JAWA . Apa susahnya menyebut nama kota? Surabaya, Jogja, Semarang, Kudus, Madiun, Purwodadi.

Tentu saja yang mengucapkan tidak memiliki maksud apapun, TIDAK RASIS, tidak melecehkan, tidak merendahkan, hanya untuk memudahkan penyebutan nama-nama kota, bener deh, hanya itu maksudnya. -sense the tone, please...-