Minggu, 21 Agustus 2016

Aku Hilang

Diam memahat kata-kata yang tak terucapkan
Membawanya ke tepi lembaran kertas koran bekas
yang kau temukan di dalam bis kota
Jendela dan angin dingin berbicara rahasia
tempat-tempat kiasan yang meneteskan air mata
Dalam sepi yang berarti bisa berlalu
di halte yang terlewatkan
Riuh cuma dalam bayang-bayang yang kepanjangan
karena langit sore
Sulaman maksud yang tak terwujud
dalam setangkai dua tangkai bunga liar
Tertinggal begitu saja
Mengambang di udara sesak oleh ketiadaan
Aku hilang.




Selly Oak, 20 Agustus 2016


Kamis, 11 Agustus 2016

Namanya S

Sebulan sebelum selesai kuliah, sebulan sebelum pulang, tiba-tiba aku kepingin menulis di blog ini. Bukan di blog baru tentang mama-mama mahasiswa yang mangkrak karena kemalasan, bukan pula di domain personal yang biayanya sangat terjangkau di sini, tapi di sini. Blog ini terasa seperti teman lama. Aku sedang butuh seorang teman, teman lama, yang tahu paling tidak setengah dari diamku, yang tahu bahwa kadang kata-kata tanpa disaring yang keluar dari mulutku berbanding lurus dengan besarnya kepedulianku, yang tanpa basa-basi, tanpa perlu berfikir apa perlu ketemu di kafe ataukah bioskop, lebih dekat ke rumah dia atau rumahku, teman yang membebani sekaligus melegakan. 

Mungkin semua ini hanya tentang disertasi. Mungkin juga tentang aku yang kali ini berada pada satu waktu, di salah satu fragmen hidup, di mana  Plan A tidak tersedia. Plan terbaik, nomer satu, yang selama ini bahkan tidak pernah aku anggap penting, take it for granted atau apalah, mendadak tidak compatible dan tidak bisa aku kendalikan. Gagal mendapatkan plan A, walau berat, tapi aku sudah biasa melewatinya. Tapi, mendapati list segala kemungkinan tanpa tertulis Plan A di daftar teratas, langsung ke Plan B, C, D, itu yang tidak terbayangkan. 

Mungkin ini tentang disertasi. Atau mungkin aku rindu seseorang, atau sesuatu. Mungkin aku rindu seorang atau justru beberapa teman lama. Sekarang, teman terdekatku adalah sebuah paket software pengolah data yang secara mengerikan mulai aku pahami bahasanya, yang kiasan ataupun yang bukan. Saat di monitor tampak kode-kode berwarna merah yang menunjukkan ada sesuatu yang salah, tanpa panik bertanya pada Google --sang penyelamat di akhir jaman-- ataupun menekan tombol 'help' yang mirip tuhan kecil, bedanya dia to the point, menjawab saat itu juga atau tak jarang bilang bahwa pencarianku tidak ditemukan. Aku akan memahami tanda error itu, memanipulasi dataset, mengubah perintah, atau sekedar memperbaiki typo, lalu kode merah itu tidak muncul lagi, tinggal sederetan angka-angka hitam yang lagi-lagi aku bisa membacanya selancar bahasa ibu. Kami sudah sangat akrab. Aku berteman dekat dan merasa nyaman dengan sebuah program komputer yang hanya mau ngobrol dengan American English, tak peduli dia bahwa aku ada 1,5 jam dari London, bahkan jika aku berada di Timbuktu, dia tidak peduli. 

Mungkin aku rindu. Tapi aku terlalu malas untuk berusaha apalagi menemukan. Dan keberadaanku di dalam diriku sedang aku pertanyakan.



 

Minggu, 02 Agustus 2015

Jalan-jalan terus kapan belajarnya?



Trend-nya adalah, sebagian besar yang kuliah di luar negeri khusunya yang tidak dengan biaya sendiri alias beasiswa, sering mengunggah foto-foto jalan-jalan ke sanalah atau ke sinilah, dengan berbagai pose mulai yang ala turis sampai yang pose pura-pura gak peduli. Termasuk saya. Di unggahlah semua foto, mulai dari yang di dalam kota tempat kuliah, di London, juga di kota lain di Eropa. Ada juga foto kumpul-kumpul orang Indonesia, makan-makan, masak ini itu, nonton konser, belanja summer sale, intinya semua tampak indah.

Apa iya?

Ya enggaklah!

Orang-orang seperti saya ini, tipe yang nabung seumur-umurpun, gak cukup buat liat London Eye tiap musim atau liburan keliling eropa sebulan penuh. Saya dari kecil punya mimpi kepengen sekali hidup di luar negeri, merasakan hidup sehari-hari ya, bukan cuma sekedar berkunjung dan melihat indahnya aja. Karena itu, beasiswa jadi salah satu tujuan besar yang biar udah nikah, biar udah punya anak, tetap dikejar sampai dapat. Demi apa? Demi merasakan hidup di negara maju, dengan segala kemudahan dan permasalahannya. Saya kepingin pikiran saya luas, bukan sekedar karena sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, tapi lebih karena mengalami banyak hal yang sebelumnya cuma dibaca lewat buku atau ditonton di tivi. Jadi, setelah sampai di titik ini, saya merasa layak merayakan terkabulkannya mimpi-mimpi itu.

Lalu, susahnya apa?

Banyak!

Mulai dari suhu dingin yang benar-benar tidak terbayangkan, karena sebelumnya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke Eropa sampai homesickness yang benar-benar menyakitkan. Padahal sejak tahun 2003 saya jauh dari orang tua, tapi kombinasi antara culture shock, weather shock, dan shock-shock yang lain itu menghasilkan homesick yang mengerikan. Waktu suami dan anak belum nyusul ke sini, pernah saya sampai gak mau keluar dari kamar untuk bersosialisasi. Pikiran saya tahu bahwa saya harus kuliah karena ini mimpi saya, tapi hati saya entah ada di mana. Setelah ada anak dan suami, beberapa masalah terpecahkan, tapi masalah lain mulai bermunculan. Bagaimana mesti bagi waktu, bagaimana harus belajar buat ujian, di saat suami sakit, gak ada pembantu, jauh dari orang tua, mau nitipin anak ke temen juga temennya lagi sama-sama ujian, sementara masih harus masak, karena kalau beli mahal.  

Kadang pas jalan kaki pulang dari kampus, membayangkan rumah udah rapi, cucian piring udah bersih, makanan udah siap, kalaupun belum bisa mampir warung beli nasi padang, dan semua kemudahan yang ada di tanah air. Namanya juga manusia ya, bohong kalau bisa menerima segala sesuatu apa adanya tanpa terkecuali. Haha.


Cuma kan kalau susah-susahnya sering di-posting, sering dikeluhkan di sosial media, apa kabar orang tua yang jauh di sana? Kita seneng-senengpun yang di sana kepikiran, apalagi kalau sering mengeluh ini itu di facebook. Ada orang-orang yang benar-benar saya pedulikan, yang saya harap cuma senyum yang tertinggal tiap melihat atau mendengar kabar dari saya. 

Terus, kapan belajarnya?

Saya kasih tau ya, nggak usah khawatir sama kita-kita. Urusin aja urusan situ yang gak kalah banyaknya! ;-)

--

Pagi, teriak dua alarm kencang-kencang, dan aku selalu masih terpejam dalam
Suara air di kamar mandi, suara air direbus dan sedikit tercium harum roti panggang
Tak lama kurasakan satu dua kecupan yang menyeretku dari remang untuk kubilang hati-hati di jalan

Pagi tak pernah berkawan, kutemui dia dengan diam yang menyebalkan







Jumat, 05 Juni 2015

Tiga Puluh



Hampir semua target-target 'before 30' yang saya pasang sudah tercapai. Tidak semuanya memang, tapi sudah cukup membuat ringan langkah ke 'before 40'. Sepuluh tahun terakhir, saya lulus D3, kerja di usia yang relatif muda, lulus S1, menikah, melahirkan, menyusui, dapat beasiswa, lalu lanjut kuliah di negara yang saya impikan sejak kecil. Belum lagi segala kisah percintaan yang udah penuh ditulis di blog ini, hahaha. Putus dari pacar yang sudah lama hubungannya, ketemu orang baru yang sama sekali tidak diduga, putus lagi setelah sekian lama pacaran, dekat sama si ini dan si itu, dan akhirnya nikah sama teman dekat sendiri. 

Selama sepuluh tahun ini juga saya tinggal jauh dari orang tua. Mengalami beratnya perasaan saat gak bisa mendampingi Mama recovery dari operasi kanker payudara, beratnya hati pulang ke rumah dan melihat sendiri perjuangan Papa menemani Mama yang harus kemoterapi setiap bulan, lalu baru saja tahun lalu harus rela hanya mendengar cerita bagaimana Papa operasi ginjal karena waktu operasi bertepatan dengan hari menjelang saya ujian

Entah karena umur, atau karena apa yang sudah saya lewati, satu hal yang semakin saya kuasai adalah memilih apa yang benar-benar penting untuk dipikirkan. Misalnya, dengan senang hati saya berteman dengan orang-orang baru, tapi saya juga tidak berusaha terlalu keras untuk diterima di suatu lingkungan, beberapa orang yang tau buruk-buruknya saya, yang tidak menghakimi kebodohan-kebodohan saya, itu sudah cukup. 

Di banding awal-awal umur 20-an juga saya berusaha lebih banyak menelepon orang tua. Mengirim pesan pendek, mengirim foto lewat whatsapp, dan sedikit-sedikit menyaring apa yang perlu diceritakan ke Mama dan apa yang tidak. Menjadi orang tua, saya belajar bahwa di saat anak bahkan sudah sembuh, rasa sakit di hati ibu seringkali masih bertahan. Ini juga hasil didikan Si Roti Sikaya biar tidak jadi beban pikiran orang tua, katanya.

Tentang menjadi ibu, setiap kali ditanya apa rasanya, jawaban saya selalu: punya anak seperti membuka kunci salah satu pintu di diri saya yang sebelumnya tidak pernah saya sadari keberadaannya. Pintu menuju ruang yang sangat luas, yang tidak pernah saya tahu bahwa saya bisa menampung ruangan sebesar ini di dalam hati.

Dan Roti Srikaya... Dia sahabat, yang menyebalkan setengah mati, yang sering lupa membuang sisa nasi ke bak cuci piring, padahal saya, yang jorok ini, entah kenapa paling geli liat nasi-nasi sisa. Dia yang seringkali harus dipaksa dengan omelan atau didiamkan seharian demi melakukan sesuatu untuk kebaikannya, semacam kembali menulis. Saya dan dia kadang terlalu sama, tapi juga terlalu berbeda. Begitupun, empat tahun terakhir, tidak akan menjadi semenarik ini tanpa dia. :)

Happy Birthday, Ariza Ayu Ramadhani. You've done many things exceptionally well. So, have fun and don't  be too hard to yourself!