Rabu, 31 Mei 2017

Who runs the world?

Suatu sore, di hari Sabtu, saat si Ibu leyeh-leyeh setengah tiduran dan membiarkan anak perempuannya main entah apa di jalanan komplek sama tetangga, tiba-tiba masuklah si anak ke kamar. Sedang berusaha keras menahan air mata.

"Mum, when I was playing football with Abang A, Pak Satpam said that girl shouldn't play football...", kemudian air matanya mulai tumpah.

Secara si Ibu feminis at heart, rasa-rasanya pengen langsung ngelabrak si Pak Satpam, tapi ditahan-tahan.

"Can you play football?", akhirnya nanya pelan-pelan ke si anak.

"Yes. I can. I don't care what he said. But I am sad...."

*peluk anak. nangis dalam hati

Saat sudah tenang, di era digital ini, buka youtube, cari video sepak bola wanita di Olympic Games Rio, show her, done!

-----------


Setiap orang, saat punya anak, pasti jadi suka berangan-angan. Ada angan yang positif, banyak juga yang negatif. Jadi punya mimpi bahwa dunia akan jadi tempat yang jauh lebih baik pas si anak gede nanti. And I am no exception.

Dipikir-pikir, salah satu pembunuh mimpi anak terbesar adalah orang tua. Maksudnya sih baik. Orang tua juga gak mau anaknya merasakan pahitnya kegagalan, atau sedihnya penolakan. Tapi tanpa disadari, harapan si anak pun pelan-pelan padam. 

Apa sih salahnya anak perempuan main bola? Ini masih main-main lho, bukan kompetisi serius. Sejak Aruna kecil, sebenernya aku udah lebih banyak ngasih dia gender-neutral toys. Nggak berusaha maksa suka main boneka, baju-baju juga diusahakan gak selalu pink, dan sebagainya. Tapi begitu anak udah di atas 3 tahun, mulailah dia punya teman, dan merasa ingin jadi Princess, ingin pakai baju pink. Ada juga dorongan dari pendidikan seks usia dini, bahwa dia perempuan, seperti Mama, bukan seperti Ayah. Lalu dia mulai meniru apa yang mamanya pakai, apa yang mamanya kerjakan. 

Tadinya, aku selow. Gak apa-apalah, memang lagi masanya. Dan memang bener, umur 4,5 tahun, dia udah mulai ogah pakai tiara dan kostum-kostum Princess. Alhamdulillah. Tapi, dulu pas masih keranjingan Princess, suatu hari, dia ajak mamanya main peran, Mama jadi Prince, Aruna jadi Princess. Lalu, dia sembunyi di samping sofa, dan bilang:

"Save me, Mum. Pretending you're the Prince"

Kagetlah! Reaksi pertama langsung pengen berhenti main dan ngasih kuliah ke anak tentang women empowerment kan ya? Tapi berusaha kalem mengalihkan cerita.

"What if the Princess is actually a smart and strong Princess who can save herself?"

"I knew that kind of Princess. But, today I want the Prince to save me!", katanya.

"Why?"

"It is just a story, you know, just a story", anaknya ngeyel.

Biar cerita terus berjalan, Prince Mama jadi-jadian, akhirnya bikin cerita sendiri, ceritanya kudanya kesandung, trus jatuh, dan kakinya sakit gak bisa jalan. Dan karena Princess nya pinter dan kuat, dia gak usah nunggu diselamatkan, dia bisa berenang mengarungi sungai, trus naik kuda kembali ke Istana. The End. 

Setelah main, barulah mulai kuliahnya. Mulai nanya, siapa Princess yang strong. Lalu dia jawab Elena the Avalor, Moana, sama Elsa. Trus, mulai lagi belajar gimana berdiskusi sama anak tentang suatu cerita. 

Beberapa hal jenius yang aku dapet dari berbagai sumber, yang terlalu sayang untuk disimpan sendiri:
(Ini husus buat yang princess-princess klasik ya, contohnya Beauty and The Beast versi baru kemarin yang masih menjaga orisinalitasnya meski banyak yang udah disesuaikan juga. Princess Disney produk baru, kayak Elsa, Ana atau Elena sih biasanya udah ada diselipin nilai-nilai equality, meski kita tetep harus waspada juga sih)

  1. Buat film, tonton duluan buat ngecek bagian-bagian mana yang harus di sensor buat anak, dan buat mempersiapkan diri cari rasionalisasinya. Kalau gak sempet, cari info sebanyak-banyaknya di internet dan ke ibu-ibu lain yang udah nonton.
  2. Selalu tanyakan, kira-kira apa yang terjadi setelah "The End". Misalnya buat Beauty and The Beast, tanyakan kira-kira apa yang akan dilakukan Belle setelah itu? Apa dia mau bangun library buat anak-anak di desa? "Do you think The Beast need to say sorry to Belle's father for what he's done? 
  3. Fokuskan ke nilai positif si tokoh utama, karena anak biasanya ngikutin orang tua. Misalnya, kalau aku kemarin, semangat banget ajak Aruna bahas tentang Belle yang gak cuma hobi baca, tapi juga inventor.
  4. Kritisi filmnya! Misalnya, kenapa cuma boys aja yang sekolah, Belle gak sekolah? Lalu, mulailah kuliah singkat tentang gender inequality. *wink*

Film, seperti karya seni lainnya, harusnya menjadi makanan jiwa. Membuat manusia makin terpenuhi kebutuhannya. Tapi, buat anak-anak, film (dan buku) bisa menjadi basis pola pikirnya, yang sebenernya bisa membantu orang tua untuk menanamkan nilai-nilai hidup dengan cara yang lebih mudah.

Cheers!
-cha-

Kamis, 26 Januari 2017

Semua yang Biasa

Apa yang bisa bikin kangen dari sebuah kota? Apalagi kalau kota itu bukan kota yang artistik dan cantik, juga bukan kota wisata yang penuh kenangan berlibur dengan orang-orang tersayang. 

Hari ini kira-kira empat bulanan gue kembali ke Indonesia, setelah dua tahun sekolah dan tinggal di Birmingham, Inggris. Tiga bulan pertama kayaknya gue baik-baik aja. Nggak diare, nggak batuk-batuk, nggak juga mellow kangen sama suasana kampus dan kota Birmingham, apalagi kangen musim dingin. NO. Pokoknya pulang ke Jakarta, all is well and content

FYI, Birmingham itu kotanya biasa banget. Bukan London yang gemerlap dan tiap tikungan penuh sejarah, bukan Edinburgh yang kayak negeri dongeng, bukan juga desa-desa Inggris nan cantik yang penuh dengan jalanan tikus yang lucu. Konon, kota ini jadi salah satu kota yang cukup parah kerusakannya saat Perang Dunia, sehingga tidak semua sudut kotanya adalah bangunan orisinil.

Tapi kemudiantadi pagi, pas jam kerja, seperti biasa gue scrolling instagram @igersbirmingham dan tiba-tiba nyesek perasaan kangen.


Foto ini nggak diambil di jalanan dekat tempat tinggal gue selama di Birmie, tapi semua jalanan di sana suasananya persis PLEK sama foto ini. Rumah dua lantai yang dempet-dempetan, halaman depan 1 meter, trotoar yang nggak terlalu lebar, dan bahu jalan yang penuh dengan mobil-mobil kecil 4 - 5 seater. Duh. Rasanya kangen, terharu, inget hal-hal kecil dan sederhana kayak jalan setengah lari selama 20 menit dari rumah ke kampus, terus trotoar yang sering berceceran botol atau kaleng bekas minuman, pulang tengah malam dari perpustakaan kampus simpangan sama anak undergrad yang berangkat party dengan kostum-kostum yang seru sambil kelaparan dan membayangkan di pinggir jalan ada tukang nasi goreng yang mangkal. Hahaha.

Seumur hidup, pengalaman tinggal di tempat yang jauh dan hampir nggak masuk akal buat diulang lagi adalah pengalaman hidup di Birmie ini. Gue nggak pernah tinggal lama di suatu tempat yang jauh dari tanah kelahiran dan harus meninggalkan tempat itu for good. Ternyata rasa-rasanya mirip putus sama pacar ya. Karena yang yang sulit bukannya kembali hidup single (dalam hal ini kembali hidup di Indonesia), tapi perasaan nyaman karena terbiasa bersama yang bikin susah untuk nggak patah hati. 

Inget dulu patah hati karena BIASANYA makan malam bareng, jalan kaki bareng pulang kuliah, terus rasanya hati nelangsa banget pas lewat jalan pulang sendirian. Nah, rasanya sama. Walaupun gue sama anak dan suami selama dua tahun itu sempat travelling ke tempat-tempat yang kami mimpikan, ternyata yang bikin nelangsa itu cuma liat jalanan yang dulu dilewati tiap hari. Trus, begitu udah nelangsa, foto-foto lainnya jadi terasa menyakitkan untuk dilihat. 

Victoria Square ini pusat kota Birmie. Alun-alun lah ya kalau di sini. Di dekat sini ada pusat perbelanjaan, kafe-kafe, dan perpustakaan Birmingham.
 Foto ini dari akun @igersbirmingham yang regram dari @krisaskey. Salah satu IG favorit! Trotoar lebar ini ada di city center juga. Di ujung sana ada Poundland, di sana lagi ada KFC, Boots, M&S, Primark dan segala macam toko. Jalanan ini juga salah satu yang bikin nyesek.

 Tram ini beroperasi tidak lama sebelum kami pulang ke Indonesia. Tapi ada satu kenangan kami pergi naik tram ini di musim panas kami yang terakhir, pergi ke salah satu park terbesar, sehari setelah gue ngumpulin first draft disertasi setelah semingguan nggak punya kehidupan.
Dan terakhir.....China Town! Pusat kebahagiaan yang berasal dari perut. Tanpa Day In (toko serba ada bahan masakan dan jajanan Asia), warung mie, dan So Ya Cafe, nggak mungkin kayaknya gue bisa melewati masa-masa gelap di sana. Ah.

Oh my longlost love. *lebay*



*all pictures were taken from @igersbirmingham

Minggu, 21 Agustus 2016

Aku Hilang

Diam memahat kata-kata yang tak terucapkan
Membawanya ke tepi lembaran kertas koran bekas
yang kau temukan di dalam bis kota
Jendela dan angin dingin berbicara rahasia
tempat-tempat kiasan yang meneteskan air mata
Dalam sepi yang berarti bisa berlalu
di halte yang terlewatkan
Riuh cuma dalam bayang-bayang yang kepanjangan
karena langit sore
Sulaman maksud yang tak terwujud
dalam setangkai dua tangkai bunga liar
Tertinggal begitu saja
Mengambang di udara sesak oleh ketiadaan
Aku hilang.




Selly Oak, 20 Agustus 2016


Kamis, 11 Agustus 2016

Namanya S

Sebulan sebelum selesai kuliah, sebulan sebelum pulang, tiba-tiba aku kepingin menulis di blog ini. Bukan di blog baru tentang mama-mama mahasiswa yang mangkrak karena kemalasan, bukan pula di domain personal yang biayanya sangat terjangkau di sini, tapi di sini. Blog ini terasa seperti teman lama. Aku sedang butuh seorang teman, teman lama, yang tahu paling tidak setengah dari diamku, yang tahu bahwa kadang kata-kata tanpa disaring yang keluar dari mulutku berbanding lurus dengan besarnya kepedulianku, yang tanpa basa-basi, tanpa perlu berfikir apa perlu ketemu di kafe ataukah bioskop, lebih dekat ke rumah dia atau rumahku, teman yang membebani sekaligus melegakan. 

Mungkin semua ini hanya tentang disertasi. Mungkin juga tentang aku yang kali ini berada pada satu waktu, di salah satu fragmen hidup, di mana  Plan A tidak tersedia. Plan terbaik, nomer satu, yang selama ini bahkan tidak pernah aku anggap penting, take it for granted atau apalah, mendadak tidak compatible dan tidak bisa aku kendalikan. Gagal mendapatkan plan A, walau berat, tapi aku sudah biasa melewatinya. Tapi, mendapati list segala kemungkinan tanpa tertulis Plan A di daftar teratas, langsung ke Plan B, C, D, itu yang tidak terbayangkan. 

Mungkin ini tentang disertasi. Atau mungkin aku rindu seseorang, atau sesuatu. Mungkin aku rindu seorang atau justru beberapa teman lama. Sekarang, teman terdekatku adalah sebuah paket software pengolah data yang secara mengerikan mulai aku pahami bahasanya, yang kiasan ataupun yang bukan. Saat di monitor tampak kode-kode berwarna merah yang menunjukkan ada sesuatu yang salah, tanpa panik bertanya pada Google --sang penyelamat di akhir jaman-- ataupun menekan tombol 'help' yang mirip tuhan kecil, bedanya dia to the point, menjawab saat itu juga atau tak jarang bilang bahwa pencarianku tidak ditemukan. Aku akan memahami tanda error itu, memanipulasi dataset, mengubah perintah, atau sekedar memperbaiki typo, lalu kode merah itu tidak muncul lagi, tinggal sederetan angka-angka hitam yang lagi-lagi aku bisa membacanya selancar bahasa ibu. Kami sudah sangat akrab. Aku berteman dekat dan merasa nyaman dengan sebuah program komputer yang hanya mau ngobrol dengan American English, tak peduli dia bahwa aku ada 1,5 jam dari London, bahkan jika aku berada di Timbuktu, dia tidak peduli. 

Mungkin aku rindu. Tapi aku terlalu malas untuk berusaha apalagi menemukan. Dan keberadaanku di dalam diriku sedang aku pertanyakan.



 

Minggu, 02 Agustus 2015

Jalan-jalan terus kapan belajarnya?



Trend-nya adalah, sebagian besar yang kuliah di luar negeri khusunya yang tidak dengan biaya sendiri alias beasiswa, sering mengunggah foto-foto jalan-jalan ke sanalah atau ke sinilah, dengan berbagai pose mulai yang ala turis sampai yang pose pura-pura gak peduli. Termasuk saya. Di unggahlah semua foto, mulai dari yang di dalam kota tempat kuliah, di London, juga di kota lain di Eropa. Ada juga foto kumpul-kumpul orang Indonesia, makan-makan, masak ini itu, nonton konser, belanja summer sale, intinya semua tampak indah.

Apa iya?

Ya enggaklah!

Orang-orang seperti saya ini, tipe yang nabung seumur-umurpun, gak cukup buat liat London Eye tiap musim atau liburan keliling eropa sebulan penuh. Saya dari kecil punya mimpi kepengen sekali hidup di luar negeri, merasakan hidup sehari-hari ya, bukan cuma sekedar berkunjung dan melihat indahnya aja. Karena itu, beasiswa jadi salah satu tujuan besar yang biar udah nikah, biar udah punya anak, tetap dikejar sampai dapat. Demi apa? Demi merasakan hidup di negara maju, dengan segala kemudahan dan permasalahannya. Saya kepingin pikiran saya luas, bukan sekedar karena sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, tapi lebih karena mengalami banyak hal yang sebelumnya cuma dibaca lewat buku atau ditonton di tivi. Jadi, setelah sampai di titik ini, saya merasa layak merayakan terkabulkannya mimpi-mimpi itu.

Lalu, susahnya apa?

Banyak!

Mulai dari suhu dingin yang benar-benar tidak terbayangkan, karena sebelumnya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke Eropa sampai homesickness yang benar-benar menyakitkan. Padahal sejak tahun 2003 saya jauh dari orang tua, tapi kombinasi antara culture shock, weather shock, dan shock-shock yang lain itu menghasilkan homesick yang mengerikan. Waktu suami dan anak belum nyusul ke sini, pernah saya sampai gak mau keluar dari kamar untuk bersosialisasi. Pikiran saya tahu bahwa saya harus kuliah karena ini mimpi saya, tapi hati saya entah ada di mana. Setelah ada anak dan suami, beberapa masalah terpecahkan, tapi masalah lain mulai bermunculan. Bagaimana mesti bagi waktu, bagaimana harus belajar buat ujian, di saat suami sakit, gak ada pembantu, jauh dari orang tua, mau nitipin anak ke temen juga temennya lagi sama-sama ujian, sementara masih harus masak, karena kalau beli mahal.  

Kadang pas jalan kaki pulang dari kampus, membayangkan rumah udah rapi, cucian piring udah bersih, makanan udah siap, kalaupun belum bisa mampir warung beli nasi padang, dan semua kemudahan yang ada di tanah air. Namanya juga manusia ya, bohong kalau bisa menerima segala sesuatu apa adanya tanpa terkecuali. Haha.


Cuma kan kalau susah-susahnya sering di-posting, sering dikeluhkan di sosial media, apa kabar orang tua yang jauh di sana? Kita seneng-senengpun yang di sana kepikiran, apalagi kalau sering mengeluh ini itu di facebook. Ada orang-orang yang benar-benar saya pedulikan, yang saya harap cuma senyum yang tertinggal tiap melihat atau mendengar kabar dari saya. 

Terus, kapan belajarnya?

Saya kasih tau ya, nggak usah khawatir sama kita-kita. Urusin aja urusan situ yang gak kalah banyaknya! ;-)