Selasa, 20 Februari 2018

Dilan might've been a boyfriend we never had...

Dilan, buku dan filmnya, adalah semacam cerita universal dengan rentang usia target audiens yang lebar, mulai dari remaja yang sekarang ini masih SMA, sampai mereka yang SMA-nya di tahun 90an. Semua orang akan terhubung dengan Dilan dan Milea dari perasaan jatuh cinta pertama kali, kenaifan, dan keposesifannya. The core value. 

Ternyata, dari generasi ke generasi, jatuh cinta itu rasanya sama. Perasaan yang ditimbulkan saat flirting, baik bagi yang tebar pesona atau yang lagi dideketin, secara langsung atau melalui medium, efeknya juga sama.

Awal-awal belajar punya komitmen sama orang lain, terus jadi merasa memiliki, lalu posesif, merasa berhak untuk melarang, merasa ingin diutamakan dibanding teman-teman, rasa-rasanya semua anak SMA yang mulai suka-sukaan mengalami hal itu.

Khusus buat generasi 90an, tentu ada hal lain yang bikin makin relate dengan kisah Dilan-Milea, seperti yang udah seringkali dibahas di berbagai review. Hal yang paling spesial dan sulit untuk dibagi dengan generasi ponsel adalah pdkt dan pacaran lewat telepon umum dan telepon rumah. Ada seni tersendiri untuk mengatur waktu-waktu paling pas untuk nelpon atau nerima telpon dari pacar, belum kalau teleponnya yang pakai kabel, gak bisa ditenteng ke tempat yang lebih sepi. Gimana kalau yang angkat telepon bapaknya, atau ibunya, atau kakaknya yang jutek?

Di masa itu, denger suara jutek dari Ibunya pacar aja udah mengkeret sampai ke lantai. Padahal kali aja ibunya lagi leyeh-leyeh tiduran sambil nonton TV abis seharian kerja, trus pas baru selonjoran, harus angkat telpon kita, bayanginnya sekarang males banget yhaa~~

Memori lain yang diangkat dari kisah Dilan Milea ini adalah masa di mana pacaran itu sederhana. Jalan kaki bareng dari parkir motor ke kelas, janjian ketemuan di kantin masing-masing sama gengnya, trus nanti ngobrol 5 menit isinya "Nanti tungguin aku pas pulang, aku anterin", sambil senyum-senyuman. Udah. Pulang sekolah janjian, trus dianter pulang, sambil ngobrol habis ulangan harian apa dan jam berapa berangkat les ke Primagama.

Mungkin ga semua orang pernah punya pacar kayak Dilan yang anak geng motor. Tapi itu bukan poinnya, menurut gue. Poinnya, di masa SMA, semua anak sedang mencari tau segala hal, ingin diterima di lingkungannya, kepingin bolos, benci sama guru yang killer. Tapi seperti halnya kehidupan di masa dewasa, ada orang yang punya target akademis, ada yang membangun solidaritas yang tinggi sama teman-temannya, ada yang hobi berorganisasi bahkan sampai malem-malem, tapi juga mulai pengen punya pacar.

Berbagai hal yang pengen dicoba itu jadi masalah dalam hubungan sama pacar. Lupa nelepon karena lagi rapat OSIS sampai magrib, pacar ngambek. Gak bisa ngapel malam minggu karena naik gunung, ngambek lagi. Atau sebaliknya, gak bisa naik gunung karena pacar mau ditemenin seharian, trus dimusuhin temen-temen, atau bisa dapet pacar dan temen tapi harus bolos les persiapan ujian masuk universitas jadinya ntar dimarahin orang tua. MyGod. Ribet ya hidup!

Lagi-lagi, walau permasalahan itu gak ada apa-apanya dibanding masalah hidup masa kini yang jauh lebih pelik misalnya menurunnya self-esteem karena ibu-ibu Instagram yang sempurna, tapi kisah Dilan ini bisa menyentuh bagian memori kita yang mungkin udah tersimpan lama. Udah lupa ditimbun kemacetan pulang pergi ke kantor dari rumah KPR di pinggiran kota. Tapi ternyata kita pernah ada di sana. Manis juga diingat-ingat sambil mesem.

Walau gak semua orang juga punya pacar yang romantis jaman SMA, tapi semua cowok kalau lagi PDKT jaman SMA dulu kayak punya SOP yang sama. Dateng ke kelas kita dan berusaha melucu. Survey membuktikan, semua cewek suka sama cowok yang bikin dia ketawa. Satu lagi core value di cerita Dilan ini. Pacar kita jaman SMA mungkin gak pujangga kayak Dilan, tapi paling gak tiap ngobrol pasti dia selalu berusaha ngelucu. Bikin kita ketawa. Trus dia bilang seneng liat atau denger kita senyum. Eaaa... Innocent banget ya ini. Alay tapi nyata.

Dan lagi, anak-anak umur SMA itu kan emang pada sotoy ya? Sok keren, sok gaya, sok mau menunjukkan sesuatu, sok cantik, sok populer, tengil, nyebelin, tapi itu semua yang ngeliat orang yang lebih tua. Misalnya kita di usia sekarang ini. Kisah Dilan-Milea sebenernya semacam refleksi diri juga, oh, ternyata gue dulu sok amat posesif sama anak orang. Toh ternyata sekarang si mantan pacar itu entah ada dimana, peduli kabarnya aja enggak. Hahaha.

Anyway, banyak yang menyayangkan, kenapa Dilan gak happy ending? Kenapa di Dilan 1991 mereka dengan mudahnya putus padahal pas ngejar-ngejarnya gitu amat. I mean, look around. How many people you know are married to their high school sweetheart? Not half of your friends, I believe.

Jangankan yang masih SMA, orang dewasa 20an aja banyak yang putus sama pacarnya karena merasa dikekang. Merasa pasangannya terlalu posesif. Masalahnya, tingkat toleransi posesif ini buat orang beda-beda. Buat anak SMA, dilarang pacar gabung kebut-kebutan, naik gunung, begadangan di rumah temen, trus jadi dibully temen sendiri, udah melukai harga diri banget. Apalagi kalau sampai dimusuhin temen-temennya. Inget dulu sama temen-temen pernah benci banget sama pacarnya seorang temen kami karena kami merasa si pacar terlalu posesif, yang bikin temen kami ini jadi jarang main bareng lagi, jadi ga reliable lagi buat dimintain tolong, pacarnya manja, begitu-begitulah ya. Tekanan sosial ini berarti banget buat anak-anak usia remaja. Coba kita di umur 30an ini, bodo amat! hahaha.

Being objective, film Dilan 1990 banyak kelemahannya. Mungkin secara teknis maksimal cuma dapet 6 dari 10 bintang. Kalau kata Damar, ga modal banget yang bikinnya. Tapi dari segi cerita, Milea dan Dilan ini anak-anak SMA pada umumnya. Mungkin teman kita, mungkin kita sendiri. Karena ada Dilan dan Milea di setiap diri kita kayaknya, yang membuat kita relate banget. Ngerasain banget. Trus berakhir senyum-senyum sendiri, antara teringat filmnya sama teringat memori sendiri.

:)



   

Rabu, 13 September 2017

Gelisah (1)


Ada kegelisahan yang tidak bisa ditahan sejak pertama mencicipi hidup di negara maju. Sejak pertama saya melihat (hampir) semua orang memegang iphone, lalu menyadari betapa memang hampir semua orang di Britania Raya mampu secara finansial untuk membelinya. Bahkan para pekerja blue collar, misalnya cleaning service, waiters, penjaga toko, dan lainnya dengan gaji UMR. Mungkin mereka hanya perlu menabung 3-4 bulan untuk bisa membeli iphone 6s secara tunai. Kalau mau yang bundling, cicilan 12 bulan, lebih bisa lagi tanpa perlu menabung.

Lalu masuk ke H&M, Zara, Mango, dan merk-merk lainnya yang juga terkenal sampai ke Indonesia. Baju dan aksesoris dari merk-merk itu juga sangat affordable bagi golongan menengah bawah di Inggris. Belum lagi kalau sudah memasuki masa summer sale, boxing day, atau masa-masa diskon lainnya, golongan pendapatan bawah juga bisa banget beli-beli tanpa khawatir dengan price tag.

Kegelisahan itu muncul dari kondisi yang sama dengan di kota-kota besar di Indonesia, tapi dengan kemampuan finansial yang jauh berbeda. Banyak orang memakai iphone terbaru, padahal harga iphone itu lebih tinggi dari pendapatannya selama sebulan. Kadang harus diakali dengan membeli iphone refurbished atau second agar bisa masuk budget. 

Generasi menengah di Jakarta khususnya juga sangat akrab dengan merk-merk pakaian yang sama dengan di negara-negara maju. Padahal kemampuannya sebenarnya tidak sampai ke sana. Belum lagi tas-tas dan sepatu bermerk yang di luar negeri, orang-orang justru mikir-mikir banget  buat beli. Di London, liat orang pakai tas LV bisa dihitung pakai jari. Di Jakarta? Tinggal masuk mall, pasti berjejeran keliatan di sana-sini.

Konon ada seseorang yang menggabungkan semua kartu kredit yang dia miliki agar limitnya nyampe buat beli sebuah tas bermerk. Entah cerita ini benar atau tidak, tapi kenyataannya memang mentalitas golongan menengah di kota-kota besar negara berkembang memang masih berkiblat ke negara maju. Sedihnya, produk-produk lokal yang diproduksi secara independen, yang menjadi tolok ukur kekerenan mereka yang anti-mainstream, seringkali juga memasang harga yang sangat tinggi. 

Artinya, harus keluar duit dalam jumlah besar juga untuk menjadi anak indie yang kaffah. Hmmmfth.

  

Rabu, 09 Agustus 2017

Orkestrasi Opini

Orkestrasi opini di komunitas blog, kadang bikin lelah. Bukan lelah sama tulisan-tulisannya, tapi lelah sama kontroversi perang antar komen atas tulisan itu, oleh orang-orang yang tidak mau menulis.

Sebenarnya, komunitas blog yang sedang hits masa kini semacam mojok itu ya ada persamaan model seperti media konvensional. Wartawan tugasnya 'cuma' cari berita sampai ke ujung dunia, tapi orkestratornya tetap di redaktur. 

Komunitas blog, di sisi lain, punya editor juga, yang berhak melakukan penyesuaian-penyesuaian tulisan dari kontributor. Mereka juga bisa mengangkat tulisan mana yang kayaknya 'rame' buat pembacanya. Satu sama lain penulis 'diadu' opininya terhadap sesuatu yang happening. 

Masalahnya, membalas tulisan dengan tulisan itu ada effort-nya, ada usaha menganalisis, membuat kerangka (walaupun cuma di otak aja), lalu menyisihkan sebagian waktu untuk berada di depan monitor, dan NULIS. Sementara, komen itu (jauh lebih) gampang. Terlebih komen yang sifatnya hanya merendahkan tulisan si penulis, membawa-bawa masa lalunya, belum lagi komen yang bilang bahwa penulis bisanya cuma menjelek-jelekkan orang lain. Lha trus yang sedang dia lakukan dengan komennya itu apa?

Jadi ingat ada dua orang teman yang pernah 'pura-pura' ribut di grup whatsapp, satu dari mereka berdua kami kenal sebagai orang yang nyinyir dan pedas saat ngomong, sementara satu lagi drama queen. Background informasi yang sudah tertanam di kepala kami masing-masing, membuat keributan palsu antar dua orang teman ini TERASA sangat nyata. HADIR. PRESENT. Anggota group yang lain, sampai bersusah payah mendamaikan, bahkan saling PM untuk membuat strategi bagaimana caranya untuk meredakan peperangan virtual ini.

Beberapa saat kemudian, salah satu teman yang ribut palsu itu membuat pengakuan bahwa semuanya hanya sandiwara saja. Dan tertawalah mereka berdua dengan penuh kepuasan, meninggalkan kami semua ngamuk-ngamuk setengah hidup karena merasa termakan tipu daya. Ada yang meninggalkan pekerjaannya untuk melipir ke pantry, ada yang ketinggalan penjelasan dosen karena tetiba blank gara-gara pertengkaran sahabat di wa, ada yang shock sampai berderai air mata, berbagai respon yang serius. 

Yang nggak serius siapa? Ya dua orang itu.
Kenapa? Dia tau skenarionya cyin. Tau respon yang diharapkan. Tau kalau mereka berdua sebenernya ya baik-baik aja. Tau semua. 

Kalau di game theory (harus banget bawa game theory, Cha!), bukan lagi imperfect information mainnya, tapi udah incomplete information. Kita (selain yang ribut palsu) cuma tau background informasi atas dua orang ini, tanpa tau kalau mereka sedang bikin drama.

Itulah kelemahan sekaligus kelebihan tulisan. Mengadaptasi petikan tulisan Pramodya Ananta Toer: Hidup itu sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Tulisan itu sebenarnya sederhanya, yang rempong adalah pembacanya.





Rabu, 31 Mei 2017

Who runs the world?

Suatu sore, di hari Sabtu, saat si Ibu leyeh-leyeh setengah tiduran dan membiarkan anak perempuannya main entah apa di jalanan komplek sama tetangga, tiba-tiba masuklah si anak ke kamar. Sedang berusaha keras menahan air mata.

"Mum, when I was playing football with Abang A, Pak Satpam said that girl shouldn't play football...", kemudian air matanya mulai tumpah.

Secara si Ibu feminis at heart, rasa-rasanya pengen langsung ngelabrak si Pak Satpam, tapi ditahan-tahan.

"Can you play football?", akhirnya nanya pelan-pelan ke si anak.

"Yes. I can. I don't care what he said. But I am sad...."

*peluk anak. nangis dalam hati

Saat sudah tenang, di era digital ini, buka youtube, cari video sepak bola wanita di Olympic Games Rio, show her, done!

-----------


Setiap orang, saat punya anak, pasti jadi suka berangan-angan. Ada angan yang positif, banyak juga yang negatif. Jadi punya mimpi bahwa dunia akan jadi tempat yang jauh lebih baik pas si anak gede nanti. And I am no exception.

Dipikir-pikir, salah satu pembunuh mimpi anak terbesar adalah orang tua. Maksudnya sih baik. Orang tua juga gak mau anaknya merasakan pahitnya kegagalan, atau sedihnya penolakan. Tapi tanpa disadari, harapan si anak pun pelan-pelan padam. 

Apa sih salahnya anak perempuan main bola? Ini masih main-main lho, bukan kompetisi serius. Sejak Aruna kecil, sebenernya aku udah lebih banyak ngasih dia gender-neutral toys. Nggak berusaha maksa suka main boneka, baju-baju juga diusahakan gak selalu pink, dan sebagainya. Tapi begitu anak udah di atas 3 tahun, mulailah dia punya teman, dan merasa ingin jadi Princess, ingin pakai baju pink. Ada juga dorongan dari pendidikan seks usia dini, bahwa dia perempuan, seperti Mama, bukan seperti Ayah. Lalu dia mulai meniru apa yang mamanya pakai, apa yang mamanya kerjakan. 

Tadinya, aku selow. Gak apa-apalah, memang lagi masanya. Dan memang bener, umur 4,5 tahun, dia udah mulai ogah pakai tiara dan kostum-kostum Princess. Alhamdulillah. Tapi, dulu pas masih keranjingan Princess, suatu hari, dia ajak mamanya main peran, Mama jadi Prince, Aruna jadi Princess. Lalu, dia sembunyi di samping sofa, dan bilang:

"Save me, Mum. Pretending you're the Prince"

Kagetlah! Reaksi pertama langsung pengen berhenti main dan ngasih kuliah ke anak tentang women empowerment kan ya? Tapi berusaha kalem mengalihkan cerita.

"What if the Princess is actually a smart and strong Princess who can save herself?"

"I knew that kind of Princess. But, today I want the Prince to save me!", katanya.

"Why?"

"It is just a story, you know, just a story", anaknya ngeyel.

Biar cerita terus berjalan, Prince Mama jadi-jadian, akhirnya bikin cerita sendiri, ceritanya kudanya kesandung, trus jatuh, dan kakinya sakit gak bisa jalan. Dan karena Princess nya pinter dan kuat, dia gak usah nunggu diselamatkan, dia bisa berenang mengarungi sungai, trus naik kuda kembali ke Istana. The End. 

Setelah main, barulah mulai kuliahnya. Mulai nanya, siapa Princess yang strong. Lalu dia jawab Elena the Avalor, Moana, sama Elsa. Trus, mulai lagi belajar gimana berdiskusi sama anak tentang suatu cerita. 

Beberapa hal jenius yang aku dapet dari berbagai sumber, yang terlalu sayang untuk disimpan sendiri:
(Ini husus buat yang princess-princess klasik ya, contohnya Beauty and The Beast versi baru kemarin yang masih menjaga orisinalitasnya meski banyak yang udah disesuaikan juga. Princess Disney produk baru, kayak Elsa, Ana atau Elena sih biasanya udah ada diselipin nilai-nilai equality, meski kita tetep harus waspada juga sih)

  1. Buat film, tonton duluan buat ngecek bagian-bagian mana yang harus di sensor buat anak, dan buat mempersiapkan diri cari rasionalisasinya. Kalau gak sempet, cari info sebanyak-banyaknya di internet dan ke ibu-ibu lain yang udah nonton.
  2. Selalu tanyakan, kira-kira apa yang terjadi setelah "The End". Misalnya buat Beauty and The Beast, tanyakan kira-kira apa yang akan dilakukan Belle setelah itu? Apa dia mau bangun library buat anak-anak di desa? "Do you think The Beast need to say sorry to Belle's father for what he's done? 
  3. Fokuskan ke nilai positif si tokoh utama, karena anak biasanya ngikutin orang tua. Misalnya, kalau aku kemarin, semangat banget ajak Aruna bahas tentang Belle yang gak cuma hobi baca, tapi juga inventor.
  4. Kritisi filmnya! Misalnya, kenapa cuma boys aja yang sekolah, Belle gak sekolah? Lalu, mulailah kuliah singkat tentang gender inequality. *wink*

Film, seperti karya seni lainnya, harusnya menjadi makanan jiwa. Membuat manusia makin terpenuhi kebutuhannya. Tapi, buat anak-anak, film (dan buku) bisa menjadi basis pola pikirnya, yang sebenernya bisa membantu orang tua untuk menanamkan nilai-nilai hidup dengan cara yang lebih mudah.

Cheers!
-cha-

Kamis, 26 Januari 2017

Semua yang Biasa

Apa yang bisa bikin kangen dari sebuah kota? Apalagi kalau kota itu bukan kota yang artistik dan cantik, juga bukan kota wisata yang penuh kenangan berlibur dengan orang-orang tersayang. 

Hari ini kira-kira empat bulanan gue kembali ke Indonesia, setelah dua tahun sekolah dan tinggal di Birmingham, Inggris. Tiga bulan pertama kayaknya gue baik-baik aja. Nggak diare, nggak batuk-batuk, nggak juga mellow kangen sama suasana kampus dan kota Birmingham, apalagi kangen musim dingin. NO. Pokoknya pulang ke Jakarta, all is well and content

FYI, Birmingham itu kotanya biasa banget. Bukan London yang gemerlap dan tiap tikungan penuh sejarah, bukan Edinburgh yang kayak negeri dongeng, bukan juga desa-desa Inggris nan cantik yang penuh dengan jalanan tikus yang lucu. Konon, kota ini jadi salah satu kota yang cukup parah kerusakannya saat Perang Dunia, sehingga tidak semua sudut kotanya adalah bangunan orisinil.

Tapi kemudiantadi pagi, pas jam kerja, seperti biasa gue scrolling instagram @igersbirmingham dan tiba-tiba nyesek perasaan kangen.


Foto ini nggak diambil di jalanan dekat tempat tinggal gue selama di Birmie, tapi semua jalanan di sana suasananya persis PLEK sama foto ini. Rumah dua lantai yang dempet-dempetan, halaman depan 1 meter, trotoar yang nggak terlalu lebar, dan bahu jalan yang penuh dengan mobil-mobil kecil 4 - 5 seater. Duh. Rasanya kangen, terharu, inget hal-hal kecil dan sederhana kayak jalan setengah lari selama 20 menit dari rumah ke kampus, terus trotoar yang sering berceceran botol atau kaleng bekas minuman, pulang tengah malam dari perpustakaan kampus simpangan sama anak undergrad yang berangkat party dengan kostum-kostum yang seru sambil kelaparan dan membayangkan di pinggir jalan ada tukang nasi goreng yang mangkal. Hahaha.

Seumur hidup, pengalaman tinggal di tempat yang jauh dan hampir nggak masuk akal buat diulang lagi adalah pengalaman hidup di Birmie ini. Gue nggak pernah tinggal lama di suatu tempat yang jauh dari tanah kelahiran dan harus meninggalkan tempat itu for good. Ternyata rasa-rasanya mirip putus sama pacar ya. Karena yang yang sulit bukannya kembali hidup single (dalam hal ini kembali hidup di Indonesia), tapi perasaan nyaman karena terbiasa bersama yang bikin susah untuk nggak patah hati. 

Inget dulu patah hati karena BIASANYA makan malam bareng, jalan kaki bareng pulang kuliah, terus rasanya hati nelangsa banget pas lewat jalan pulang sendirian. Nah, rasanya sama. Walaupun gue sama anak dan suami selama dua tahun itu sempat travelling ke tempat-tempat yang kami mimpikan, ternyata yang bikin nelangsa itu cuma liat jalanan yang dulu dilewati tiap hari. Trus, begitu udah nelangsa, foto-foto lainnya jadi terasa menyakitkan untuk dilihat. 

Victoria Square ini pusat kota Birmie. Alun-alun lah ya kalau di sini. Di dekat sini ada pusat perbelanjaan, kafe-kafe, dan perpustakaan Birmingham.
 Foto ini dari akun @igersbirmingham yang regram dari @krisaskey. Salah satu IG favorit! Trotoar lebar ini ada di city center juga. Di ujung sana ada Poundland, di sana lagi ada KFC, Boots, M&S, Primark dan segala macam toko. Jalanan ini juga salah satu yang bikin nyesek.

 Tram ini beroperasi tidak lama sebelum kami pulang ke Indonesia. Tapi ada satu kenangan kami pergi naik tram ini di musim panas kami yang terakhir, pergi ke salah satu park terbesar, sehari setelah gue ngumpulin first draft disertasi setelah semingguan nggak punya kehidupan.
Dan terakhir.....China Town! Pusat kebahagiaan yang berasal dari perut. Tanpa Day In (toko serba ada bahan masakan dan jajanan Asia), warung mie, dan So Ya Cafe, nggak mungkin kayaknya gue bisa melewati masa-masa gelap di sana. Ah.

Oh my longlost love. *lebay*



*all pictures were taken from @igersbirmingham