Rabu, 09 Agustus 2017

Orkestrasi Opini

Orkestrasi opini di komunitas blog, kadang bikin lelah. Bukan lelah sama tulisan-tulisannya, tapi lelah sama kontroversi perang antar komen atas tulisan itu, oleh orang-orang yang tidak mau menulis.

Sebenarnya, komunitas blog yang sedang hits masa kini semacam mojok itu ya ada persamaan model seperti media konvensional. Wartawan tugasnya 'cuma' cari berita sampai ke ujung dunia, tapi orkestratornya tetap di redaktur. 

Komunitas blog, di sisi lain, punya editor juga, yang berhak melakukan penyesuaian-penyesuaian tulisan dari kontributor. Mereka juga bisa mengangkat tulisan mana yang kayaknya 'rame' buat pembacanya. Satu sama lain penulis 'diadu' opininya terhadap sesuatu yang happening. 

Masalahnya, membalas tulisan dengan tulisan itu ada effort-nya, ada usaha menganalisis, membuat kerangka (walaupun cuma di otak aja), lalu menyisihkan sebagian waktu untuk berada di depan monitor, dan NULIS. Sementara, komen itu (jauh lebih) gampang. Terlebih komen yang sifatnya hanya merendahkan tulisan si penulis, membawa-bawa masa lalunya, belum lagi komen yang bilang bahwa penulis bisanya cuma menjelek-jelekkan orang lain. Lha trus yang sedang dia lakukan dengan komennya itu apa?

Jadi ingat ada dua orang teman yang pernah 'pura-pura' ribut di grup whatsapp, satu dari mereka berdua kami kenal sebagai orang yang nyinyir dan pedas saat ngomong, sementara satu lagi drama queen. Background informasi yang sudah tertanam di kepala kami masing-masing, membuat keributan palsu antar dua orang teman ini TERASA sangat nyata. HADIR. PRESENT. Anggota group yang lain, sampai bersusah payah mendamaikan, bahkan saling PM untuk membuat strategi bagaimana caranya untuk meredakan peperangan virtual ini.

Beberapa saat kemudian, salah satu teman yang ribut palsu itu membuat pengakuan bahwa semuanya hanya sandiwara saja. Dan tertawalah mereka berdua dengan penuh kepuasan, meninggalkan kami semua ngamuk-ngamuk setengah hidup karena merasa termakan tipu daya. Ada yang meninggalkan pekerjaannya untuk melipir ke pantry, ada yang ketinggalan penjelasan dosen karena tetiba blank gara-gara pertengkaran sahabat di wa, ada yang shock sampai berderai air mata, berbagai respon yang serius. 

Yang nggak serius siapa? Ya dua orang itu.
Kenapa? Dia tau skenarionya cyin. Tau respon yang diharapkan. Tau kalau mereka berdua sebenernya ya baik-baik aja. Tau semua. 

Kalau di game theory (harus banget bawa game theory, Cha!), bukan lagi imperfect information mainnya, tapi udah incomplete information. Kita (selain yang ribut palsu) cuma tau background informasi atas dua orang ini, tanpa tau kalau mereka sedang bikin drama.

Itulah kelemahan sekaligus kelebihan tulisan. Mengadaptasi petikan tulisan Pramodya Ananta Toer: Hidup itu sungguh sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirannya.

Tulisan itu sebenarnya sederhanya, yang rempong adalah pembacanya.





Tidak ada komentar: