Kamis, 26 Januari 2017

Semua yang Biasa

Apa yang bisa bikin kangen dari sebuah kota? Apalagi kalau kota itu bukan kota yang artistik dan cantik, juga bukan kota wisata yang penuh kenangan berlibur dengan orang-orang tersayang. 

Hari ini kira-kira empat bulanan gue kembali ke Indonesia, setelah dua tahun sekolah dan tinggal di Birmingham, Inggris. Tiga bulan pertama kayaknya gue baik-baik aja. Nggak diare, nggak batuk-batuk, nggak juga mellow kangen sama suasana kampus dan kota Birmingham, apalagi kangen musim dingin. NO. Pokoknya pulang ke Jakarta, all is well and content

FYI, Birmingham itu kotanya biasa banget. Bukan London yang gemerlap dan tiap tikungan penuh sejarah, bukan Edinburgh yang kayak negeri dongeng, bukan juga desa-desa Inggris nan cantik yang penuh dengan jalanan tikus yang lucu. Konon, kota ini jadi salah satu kota yang cukup parah kerusakannya saat Perang Dunia, sehingga tidak semua sudut kotanya adalah bangunan orisinil.

Tapi kemudiantadi pagi, pas jam kerja, seperti biasa gue scrolling instagram @igersbirmingham dan tiba-tiba nyesek perasaan kangen.


Foto ini nggak diambil di jalanan dekat tempat tinggal gue selama di Birmie, tapi semua jalanan di sana suasananya persis PLEK sama foto ini. Rumah dua lantai yang dempet-dempetan, halaman depan 1 meter, trotoar yang nggak terlalu lebar, dan bahu jalan yang penuh dengan mobil-mobil kecil 4 - 5 seater. Duh. Rasanya kangen, terharu, inget hal-hal kecil dan sederhana kayak jalan setengah lari selama 20 menit dari rumah ke kampus, terus trotoar yang sering berceceran botol atau kaleng bekas minuman, pulang tengah malam dari perpustakaan kampus simpangan sama anak undergrad yang berangkat party dengan kostum-kostum yang seru sambil kelaparan dan membayangkan di pinggir jalan ada tukang nasi goreng yang mangkal. Hahaha.

Seumur hidup, pengalaman tinggal di tempat yang jauh dan hampir nggak masuk akal buat diulang lagi adalah pengalaman hidup di Birmie ini. Gue nggak pernah tinggal lama di suatu tempat yang jauh dari tanah kelahiran dan harus meninggalkan tempat itu for good. Ternyata rasa-rasanya mirip putus sama pacar ya. Karena yang yang sulit bukannya kembali hidup single (dalam hal ini kembali hidup di Indonesia), tapi perasaan nyaman karena terbiasa bersama yang bikin susah untuk nggak patah hati. 

Inget dulu patah hati karena BIASANYA makan malam bareng, jalan kaki bareng pulang kuliah, terus rasanya hati nelangsa banget pas lewat jalan pulang sendirian. Nah, rasanya sama. Walaupun gue sama anak dan suami selama dua tahun itu sempat travelling ke tempat-tempat yang kami mimpikan, ternyata yang bikin nelangsa itu cuma liat jalanan yang dulu dilewati tiap hari. Trus, begitu udah nelangsa, foto-foto lainnya jadi terasa menyakitkan untuk dilihat. 

Victoria Square ini pusat kota Birmie. Alun-alun lah ya kalau di sini. Di dekat sini ada pusat perbelanjaan, kafe-kafe, dan perpustakaan Birmingham.
 Foto ini dari akun @igersbirmingham yang regram dari @krisaskey. Salah satu IG favorit! Trotoar lebar ini ada di city center juga. Di ujung sana ada Poundland, di sana lagi ada KFC, Boots, M&S, Primark dan segala macam toko. Jalanan ini juga salah satu yang bikin nyesek.

 Tram ini beroperasi tidak lama sebelum kami pulang ke Indonesia. Tapi ada satu kenangan kami pergi naik tram ini di musim panas kami yang terakhir, pergi ke salah satu park terbesar, sehari setelah gue ngumpulin first draft disertasi setelah semingguan nggak punya kehidupan.
Dan terakhir.....China Town! Pusat kebahagiaan yang berasal dari perut. Tanpa Day In (toko serba ada bahan masakan dan jajanan Asia), warung mie, dan So Ya Cafe, nggak mungkin kayaknya gue bisa melewati masa-masa gelap di sana. Ah.

Oh my longlost love. *lebay*



*all pictures were taken from @igersbirmingham