Selasa, 29 Januari 2008

Multiplier Effect



Sudah seminggu lebih saya menyaksikan Pementasan Teater Koma ke 112 "Kenapa Leonardo?", tapi baru sekarang mampu menuliskannya. Tapi jangan mengharap review pementasan ya, nanti dulu, perlahan-lahan. Jujur, saya masih terpesona.

Pertama, kapan lagi bisa menikmati kehirukpikukan Taman Ismail Marzuki sepanjang minggu?! Pementasan selama 14 hari itu selalu penuh. Parkiran TIM yang biasanya lengang di tengah minggu, ramenya minta ampun. Sampe-sampe, saya yang hobi ke TIM tanpa tujuan jelas (oke, tujuan saya sebenarnya beli nasi bebek di bawah spanduk film-film 21 itu) saja terkagum-kagum dengan antrean panjang mobil yang berjubel mau masuk TIM. Bisa dibilang, saya bahagia karna merasa hidup di negara dengan rakyat yang memiliki apresiasi seni tinggi. Padahal di seluruh penjuru tanah air, masih banyak teater-teater yang dicaci maki dan jarang diapresiasi selayaknya.


Sayapun pernah merasakannya.


Mari berhitung sejenak. Kapasitas Graha Bhakti Budaya TIM tempat pementasan Teater Koma adalah 811 kursi, dengan toleransi kekosongan 11 kursi, maka sehari penontonnya 800 orang. Selama pementasan penonton sebanyak= 800 X 14 = 11.200 orang! Sebelas ribu orang selama dua minggu di Indonesia! Bukankah itu angka yang fantastis?

Euforia itu disertai fakta lain, karena menurut N Riantiarno, dari 11ribu penonton itu 50%nya adalah penonton setia, yang setiap tahun selalu menandai kalender khusus untuk Teater Koma. Yang rela meluangkan waktu istirahatnya karna pertunjukan itu berlangsung selama 4 jam, sejak pukul 19.30 sampai 00.00!!! Dan kebanyakan di weekdays. Contohnya saja sahabat-sahabat saya. Karna kecerobohan saya, kami gak bisa dapat tiket pementasan hari Sabtu malam. Padahal dua dari 'kami' ngantor di luar kota. Satu di Purwakarta (4 jam dari jakarta) dan satu lagi di Serang (2jam dari jakarta), saya yang merasa bersalah dan gak enak hati menelpon mereka berdua dengan suara yang memelas meminta belas kasihan, tapi tanggapan keduanya seharusnya tidak mengejutkan saya.

Dentong (nama samaran): " Kalo yang minggu udah sold out juga?"

Saya : "Minggu masih ada"

Dentong : " Yadah cepetan beli yang minggu", dengan nada suara yang tenang.


Lalu saya telpon yang satu lagi,

Cumi(nama samaran): " Beli yang minggu aja say, belom abis kan?", dengan cerianya.

saya : -bengong-


Saya lupa, mereka berdua sudah terkena kutukan penonton setia yang termasuk 50% itu. Saya rupanya sudah mendiskreditkan mereka berdua karena tinggal di luar kota dan saya yang ada di jakarta begitu pongahnya melupakan fakta besar itu. Nonton minggu malam, artinya mereka berdua baru sampai dikos saya selaku basecamp jam setengah satu dini hari, tidur jam satu sampai jam4, dan berangkat ke kota masing-masing untuk bekerja di hari SENIN.

Satu lagi, menurut N Riantiarno, penonton2 setia itu biasanya turun temurun, kakek-bapak-cucu, nenek-kakek-ibu-bapak-anak-paman-bibi alias sekeluarga nonton bareng. Kombinasi yang sempurna.

Saya dan cumi sempat bergurau
pas baca booklet Teater Koma, bahwa 10 tahun lagi, saat umur kami 32 tahun, kami masih akan ngantre tiket sama seperti tahun ini. Dan jika tahun ini kami nonton berlima, 10 tahun lagi mungkin pesertanya sudah berlipat ganda, minimal 10 orang karna kami sudah datang dengan pasangan masing-masing dan mungkin sudah ada yang menggendong anak mungil nan lucu.

20 tahun
dari sekarang saat umur kami sudah 42 tahun, let say, anak-anak kami sudah berumur 15-17 tahun dan jumlah peserta nobar Teater Koma beranak pinak, kami selaku angkatan lama mungkin akan berkoalisi mempertahankan pendapat atas review kami terhadap pementasan yang baru ditonton bersama, kemudian anak-anak muda itu, remaja-remaja yang dari bayi sudah biasa diajak orang tuanya ke TIM, dicekokin pementasan-pementasan Teater Koma dan teater-teater lainnya, atau nonton bakar-bakaran-nya anak IKJ, atau pameran lukisan di Galeri Cipta itu akan menjadi oposisi kami mewakili angkatan baru. Mungkin saja kami kalah, mengingat pengetahuan saya akan seni yang tak sebanyak mereka.

Wow,,membayangkan saja kami meringis, lucu sekaligus ngeri. Betapa multiplier effect memang bekerja dengan luar biasa. Lima orang saya dan teman-teman saya, rupanya 20 tahun lagi akan menjadi 15 orang atau bahkan lebih.
Ironis, karena 50% itu besar, sobat... Sedangkan penonton-penonton baru yang fresh seperti saya dulu a.k.a nonton teater koma karna pengen dan bukan tradisi keluarga mungkin saja terus berkurang, yang berarti tiap nonton pertunjukan seni akan ada rumus 4L (lo lagi, lo lagi). Sama seperti jika saya sedang ke taman menteng nonton SORE atau bareng damar ke hey folks! menikmati mocca dan ballads, kemana saja dimana saja penontonnya itu-itu saja, orang-orang yang dengan mudah kenal muka.

6 komentar:

agie mengatakan...

kapan2 ajak gie dong buuu...
ngiler uy!!!

'IcHa' mengatakan...

hihihi,,
kapan2 yaaaa...
(dari taon lalu janji mulu,,)
Gie siy di bandung..

nibnibmarinib mengatakan...

iyaaaaa... kapan ada pentas lagiyyy,
ajakin gw dong... ngiler jugak
euy... sm nasi bebeknya ^_^

'IcHa' mengatakan...

bilang ajah mau ditraktir...:((

siskasiska mengatakan...

ga tau mesti bahagia atau bersedih..
bahagia, karena sahabat sahabatku masih bersama setelah sekian tahun terpisah jarak, bahagia karena perempuan2 ini masih tertawa bersama, entah sekedar menelanjangi kebodohan diri atau bicara tentang hati...
bahagia karena cinta itu masih membara... dan tak tercemar oleh sibuknya dunia...
dan bahagia karena dalam persahabatan itu, seni masih sangat mengikat.

tapi ada kesedihan yang menelisik dalam hatiku. karena aku hanya bagian dalam masa lalu. saat membaca cerita kekinian kalian, aku hanya mampu membayangkan ada disana, dengan khayalan mengenai tawa kalian dan gandengan tangan kita...

betapa kerinduan ini menyiksa.....

NibkangenTchatauuuk!!! mengatakan...

huuu... lama nian tak berposting.
tiap kali akuh maen kesini ga pernah ketemu, masa ketemunya sm ibu kost mulu...
& dia selalu bilang ginih, "mas, Tcha ituh kan seneng sm ujan... jd klo musim ujan gini dia ga pernah ada di kost... dia ujan2an mulu tuh di sawah, ntar deh pas musim kemarau ajah masnya kesini lagih" gituh...--;