Senin, 13 Oktober 2008

for love or money


Klise kalau lagi-lagi aku dengan rendah hati mengakui kemalasan (terlalu malas) untuk menulis. Sebulan lebih, banyak cerita, tumpukan ide, dan rentetan curhatan lewat begitu saja. Kali ini sangat tergerak karena sedang dengan intensif merenungi kisah hidup seorang teman.

Mundur dulu, untuk sekedar ngasih intro, sering denger kan petuah para orang tua dan orang-orang yang merasa tua bahwa dalam suatu hubungan CINTA SAJA TIDAK CUKUP, love isnt enough. "Cari pacar yang udah mapan..." atau " Pacar kamu yang kemaren bawa mobil itu kayaknya cocok deh sama kamu.." sering didengar remaja cewek pada umumnya di Indonesia. Ini yang dari dulu pengen aku gugat, dari jaman masih pakai seragam abu-abu putih juga aku udah sadar dan percaya bahwa cinta aja gak cukup. Karena perlu chemistry, kecocokan, pengertian, lil romance things, komunikasi, dan materi. Money will absolutely works, honey.. But its not the only one. Aku gak munafik, sekarang juga kalau ditelusuri kriteria pacar, pastinya mempertimbangkan dengan serius kerjaannya apa? lulusan mana? kira-kira masa depannya gimana? Sewajarnya aja, memposisikan diri untuk menyeimbangkan cinta dan segala konsekuensi logisnya.

Nah, gugatan yang selama ini cuma jadi teori yang belum bisa dibuktikan kesahihannya itu, sekarang akhirnya menemui satu titik persimpangan yang menunjukkan bukti nyata dalam kehidupan seorang teman. Tagline yang nantinya akan kubagi dengan sahabat-sahabat yang lain bahwa dalam suatu relationship: MONEY IS NOT ENOUGH. Even, money and love pun belum tentu bisa WORK WELL.

Sekarang bayanging aja, suami berpenghasilan puluhan juta per bulan, istri juga kerja, anak satu masih kecil, si istri merasa bisa mencintai si suami karena si suami mampu memberikan kesejahteraann bagi keluarga meraka. Tapi ternyata hambatan muncul dari sisi lain dari prisma hubungan, yaitu keluarga. Di saat fondasi relationship hanya kokoh di salah satu sisi aja, maka kemungkinan robohnya jadi besar.

Emang kehidupan itu uncertain, makanya para orang tua yang punya pengalaman hidup lebih banyak dari kita berusaha memberikan pandangan agar kita nantinya gak hidup susah. Istilah ga bisa makan cinta emang bener, tapi relationship gak selalu tentang cinta dan materi. Banyak sisi yang harus diantisipasi.

Tapi aku masih jadi salah satu orang yang percaya bahwa cinta adalah salah satu fondasi bagi sebuah hubungan, sehingga harus ADA dan dipelihara bagaimanapun caranya.
(inget ya, salah satu loooh, jadi masih banyak yang lain,hehe)

3 komentar:

siska widuri mengatakan...

absolutely agree w u...
but, the important thing i've learned this past 2 years... love can wait.

u know what i mean???

as long as u think u've finally found that right person... dilihat dari sisi kecocokan, kepengertiannya dan kriteria lainnya yang lo mau dari seorang cowok, maka cinta bisa menunggu. biarkan ia tumbuh pelan pelan diantara kalian, coz it's not how much love u have inda beginning, but how much love that u've build in the end that matter... eh, jadi pengen nulis tentang perasaan ku pada mr hubby...

Bapaknya Lanang mengatakan...

"True love never can be rent
But only true love can keep beauty innocent"

"I could never take a chance
Of losing love to find romance
In the mysterious distance
Between a man and a woman"

makanya aku gak pernah maksain diri dan istriku juga nggak maksa aku utk romantis krn takut aku jadi romantis tanpa ketulusan...

halah opo tho iki...

kutipan di atas dari lagu "A Man and A Woman - U2" diambil dari sini..

www.bangpay.org

LophLovingYou mengatakan...

D same opinion with U. Cinta itu fondasi. Tapi bukan cuma satu2nya alasan :)