Jumat, 02 Desember 2011

Berhentilah Menghitung Batu Bata

Rumah kecil itu hanyalah petak-petak berjumlah lima yang biasa dinamakan manusia berdasarkan kegunaannya. Langkah demi langkah akan membawa kita dari pagar berwarna hijau, teras kecil, pintu, ruang tengah, dua kamar, dapur, dan kamar mandi. Ada jejak-jejak langkah kita, tertinggal DNA pada sehelai rambut rontok yang menyisip di engsel pintu. Ada cinta yang mengudara pada suara ayah, ibu, dan anak kecil yang mulai belajar merangkak. Cinta dalam bau karbol di kamar mandi, atau tumpukan baju kotor di keranjang cucian.

Ada yang menyadari bahwa rumah besar berlantai dua dengan kolam renang di halaman belakangnya juga memiliki formula yang sama. Ruangan, perabot, dan beberapa orang penghuni serta jejak-jejak kehidupan yang ditorehkan lewat sampah-sampah rumah tangga setiap hari. Ada yang tak pernah sadar, hingga kegiatan pengisi waktu luangnya adalah membandingkan perbedaan jumlah batu bata dan genteng penyusun antara rumah kecilnya dan rumah besar berlantai dua.

Sesungguhnya, hidup adalah sejarah yang sudah dibuat. Rontokan rambut yang menempel di saluran pembuangan air di setiap rumah. Hidup adalah sisa keringat yang menempel di sprei tempat tidur, atau ompol bayi di lantai yang buru-buru di pel. Hidup adalah sisi kiri dari sebuah persamaan matematika. Ya. Tuhan sejenius itu untuk membuat setiap rumus memiliki bilangan pokok mulai dari a sampai z dengan eksponen yang beraneka rupa, berbeda-beda bagi setiap makhluk, lalu secara ajaib memiliki sisi kanan dari tanda sama dengan bernilai nol.

Terus-menerus membandingkan jumlah batu bata rumah kita dengan rumah-rumah lain seperti terus-terusan menelaah rumus a+b+c+d = 0 dengan x2+2y+z4+237 = 0, fokus di sisi kiri persamaan tanpa pernah menyadari bahwa hasilnya adalah sama, tidak berbeda sedikitpun. Sisi kiri adalah jebakan, ada yang dari awal paham konsep itu, menyederhanakan hidupnya, melakukan yang mampu dilakukan. Mengerti bahwa "A" akan berhasil apabila dijumlahkan dengan "B" dan tidak repot-repot mengejar "X" karena sesulit dan sebesar apapun pengorbanan untuk mendapatkannya, "X" adalah bilangan pokok persamaan lain. Bukan untuk kehidupan yang dia hidupi. 

Mengenali diri adalah hafalan perkalian dalam matematika tingkat dasar. Tanpanya, menghitung persamaan akan menjadi pekerjaan yang sulit. Hafalan perkalian menjadi basis, harus dihafal setiap malam, dipakai setiap saat, agar selalu ingat. Mengenali diri adalah penting.

Sangat penting,

lalu,

kita bisa berdamai. 


Lalu terdengar sayup-sayup lagu The Beatles:
For I don't care too much for money, For money can't buy me love....

2 komentar:

dansapar mengatakan...

suka dengan postingan ini. *jempol*

'IcHa' mengatakan...

terima kasih yaa!