Jumat, 30 Desember 2011

Dua Ribu Sebelas

Hampir setiap akhir tahun, sekejap, semua orang akan merasa heran, mengapa tahun ini berjalan begitu cepat? Lalu seperti kaleidoskop berita yang ditayangkan televisi, kitapun mulai memutar kembali tiap-tiap kejadian yang sudah terjadi. Masalah yang sudah terlewati, sakit hati yang sudah sembuh atau mungkin belum juga hilang perihnya, pencapaian-pencapaian yang ada, dan beberapa hal lucu yang sayang untuk tidak ditertawakan lagi.

Dua ribu sebelas, seperti bedak padat merk baru yang cocok di muka, walau kadang bikin iritasi juga. Cocok itu relatif ya ternyata? Bedak merk-merk sebelumnya yang entah kenapa saya tidak pernah menjadi wanita beruntung untuk mendapatkan yang bisa menempel dengan pas di wajah. Bedak itu adalah teman hidup. Kekasih. Pacar. Suami. Atau kata-kata lain yang mungkin mewakilinya. Lalu pernikahan, hidup bersama, berbagi kamar mandi dan tempat tidur. Apakah lampu kamar harus dimatikan tiap malam? Apakah boleh menguasai kamar mandi lebih dari setengah jam? Siapa yang mencuci piring? Siapa yang membereskan ruang tengah? 

Mendatangi kota dan negara baru berdua dengan segala pertengkaran dan tawa yang selalu menghasilkan senyum di kemudian hari. Memori terbaik adalah saat kita berdua meneriakkan kata-kata umpatan paling buruk di suatu danau buatan di tengah komplek Angkor Wat, teriak sekencang-kencangnya, lalu tertawa sampai keluar air mata.

Dan bell-pepper yang kemudian datang di saat kita belum menduganya. Membawa perubahan-perubahan lain, atmosfer baru yang membuat kita harus kembali membuat beberapa penyesuaian. Morning sickness, afternoon sickness, mood yang naik turun begitu cepat hingga kita kewalahan. Aku nggak bisa bau bawang. Aku nggak bisa masak lagi sekarang. Aku nggak suka bau cologne kamu. Dan semua tangisan saya, si control freak yang tiba-tiba ditampar (lagi), tidak ada yang benar-benar bisa dikendalikan di dunia ini... 

Dua ribu sepuluh saya menemukan kamu dengan perspektif baru. Dua ribu sepuluh saya akhiri dengan menjadi gadis yang paling berbahagia karena dilamar pacarnya. 

Dua ribu sebelas, saya menjadi istri seseorang. Menjadi anak bagi sepasang orang tua baru. Kakak bagi dua orang adik baru. Dan cukup beruntung merasakan tendangan-tendangan kecil bayi yang sekarang berukuran hampir sebesar mangga, tapi saya lebih suka memanggilanya bell-pepper. 

Semoga tahun depan, rumah mungil yang berada di samping deretan pohon jati itu menjadi milik kita bertiga. Lalu malam tahun baru ini, bisa dihabiskan dengan saling berpelukan di depan tv, sampai pagi.
(video via mutonk, junibacken)

6 komentar:

mutia mengatakan...

selamat tahun baru cha! :)
semoga bisa dapetin 2011 lo buat 2012 gw :D

diaN Pratiwi mengatakan...

Hai,,

jatuh cinta pada pandangan pertama pada setiap kata dalam tulisan tulisannya :-)

bunavita mengatakan...

sweeeeeet, manis banget cha!
tisu mana tisuuuu...
terharu bacanya!
happy new year ya, have a happier year!

'IcHa' mengatakan...

mutia: sama2 yaa! Amien. didoakan semoga 2012-nya jadi tahun yang HORE!

dian: halo... makasih yaa...

bunavita: Happy New Year! Selamat Kawin! hahaha

bunavita mengatakan...

selamat kawiiiin, huahahaha....

Dijual Rumah mengatakan...

emm nice post :D
salam kenal ya :D