Selasa, 05 Februari 2013

2027

Tak ada memori tentang itu. Aku masih terlalu kecil untuk mengingat betapa lucunya kamu. Mengeram di bawa selimut dengan motif yang kini terlihat kuno, di rumah pertama kita. Kamu berusaha membuatku tertawa, terus berusaha sampai aku tertawa keras, tawa yang membuat semua orang dewasa di dalam rumah suka-tak-suka akan mengembangan senyum di bibirnya. Kamu mengeram, menakutiku, tapi entah mengapa aku menganggapnya lucu, tawa keras hingga mataku hilang tinggal tersisa satu garis lurus.

Ada satu permainan membosankan, segala modifikasi ciluk-ba, yang sering kamu praktekkan. Kamu menelungkupkan bed cover, menutupi tubuh kita berdua, lalu Mama, akan berpura-pura mencari aku. Aku kegirangan di dalam tudung bed cover, melirik ke arahmu dan arah suara Mama. Lalu, saat bed cover dibuka, aku akan berteriak terlalu senang.

Tiap pagi, setelah mandi dan berganti kemeja rapi sebelum bekerja, aku memelukmu hangat. Pun malam hari, sepulang kerja, saat aku cuma bisa merangkak, aku akan menyambutmu pulang meluncur ke arah pintu dengan cepat. Aku tak tahu kamu kadang kecewa atau bahagia, jika aku merengek ingin meringkuk dalam gendongan Mama padahal mungkin kamu masih rindu harumnya bau badanku.

Ratusan video dan foto ini diletakkan Mama di dalam kamarku, entah kapan, saat aku masuk, box ini sudah ada di belakang pintu. Ada satu pesan singkat, khas Mama, yang punya obsesi akan kertas kecil berisi kata-kata. Sejak aku kecil, dia selalu menyelipkan kata-kata itu di dalam tasku, kotak makanku, hadiah, buku, oleh-oleh dari perjalanan dinasnya, atau ditempel di jidatku di Minggu pagi. Kusimpan semua, karena kata-kata Mama pada setiap pesan adalah cukilan cinta yang saking banyaknya memberatkan hatinya. Kertas-kertas itu, membantunya agar hidupnya lebih ringan oleh cintanya pada keluarga.

"Tak ada satupun detik yang terlewatkan, Aruna. Begitupun kamu, untuk kami. Kiss your Father when he got home, he loves you too much"

Sudah seminggu aku tidak berbicara denganmu. Aku begitu marah.

Aku masih mengunci pintu kamarku. Untuk menunggu pintu rumah berderit, terdengar suara roda koper yang akan kamu letakkan begitu saja di sudut ruang tamu, yang pasti kamu sudah tau Mama akan menghabiskan satu atau dua jam ngomel tentangnya besok pagi. Aku akan memelukmu, Ayah.

Maaf.

-----

Sering saya membayangkan, akan jadi seperti apa anak perempuan yang sedang tidur di pelukan saya ini. Ada berjuta skenario, jadi ini jadi itu. Seperti ini, seperti itu. Saya juga membayangkan, apa yang akan dia pikirkan tentang saya, tentang Ayahnya. Orang tua seperti apa saya buatnya, Ayah seperti apa Roti Srikaya baginya.
 
Di luar ketakutan akan hal-hal umum selayaknya orang tua lain, singkirkan dulu dana pendidikan and all, bisakah saya jadi ibu yang asyik, ibu yang tegas tapi loving, ibu yang akan nonton Java Rocking Land saat anaknya nonton dengan pacarnya atau teman-teman segengnya, ibu yang bisa ngobrol film-film festival yang baru ditonton sekeluarga di pusat budaya suatu negara, ibu yang menjadi jangkar keluarga dalam segala hal. Bisakah saya?
 
Tulisan, foto, dan video adalah titipan saya pada waktu, agar anak(-anak) yang ditakdirkan menjadi bagian dari diri saya sedikit mengerti seberapa besar saya menghargai mereka sebagai individu manusia yang merdeka sekaligus besarnya cinta yang kadang sulit untuk tidak menciptakan rasa sakit saking banyaknya.
 
Jakarta, 5 Februari 2013

2 komentar:

wardah adina mengatakan...

imajinasi lo kaaak.. ya ampuuun, sukaaaa :')

'IcHa' mengatakan...

hyaaah.. makasih yaaa niwaaa :D