Jumat, 05 Juni 2015

Tiga Puluh



Hampir semua target-target 'before 30' yang saya pasang sudah tercapai. Tidak semuanya memang, tapi sudah cukup membuat ringan langkah ke 'before 40'. Sepuluh tahun terakhir, saya lulus D3, kerja di usia yang relatif muda, lulus S1, menikah, melahirkan, menyusui, dapat beasiswa, lalu lanjut kuliah di negara yang saya impikan sejak kecil. Belum lagi segala kisah percintaan yang udah penuh ditulis di blog ini, hahaha. Putus dari pacar yang sudah lama hubungannya, ketemu orang baru yang sama sekali tidak diduga, putus lagi setelah sekian lama pacaran, dekat sama si ini dan si itu, dan akhirnya nikah sama teman dekat sendiri. 

Selama sepuluh tahun ini juga saya tinggal jauh dari orang tua. Mengalami beratnya perasaan saat gak bisa mendampingi Mama recovery dari operasi kanker payudara, beratnya hati pulang ke rumah dan melihat sendiri perjuangan Papa menemani Mama yang harus kemoterapi setiap bulan, lalu baru saja tahun lalu harus rela hanya mendengar cerita bagaimana Papa operasi ginjal karena waktu operasi bertepatan dengan hari menjelang saya ujian

Entah karena umur, atau karena apa yang sudah saya lewati, satu hal yang semakin saya kuasai adalah memilih apa yang benar-benar penting untuk dipikirkan. Misalnya, dengan senang hati saya berteman dengan orang-orang baru, tapi saya juga tidak berusaha terlalu keras untuk diterima di suatu lingkungan, beberapa orang yang tau buruk-buruknya saya, yang tidak menghakimi kebodohan-kebodohan saya, itu sudah cukup. 

Di banding awal-awal umur 20-an juga saya berusaha lebih banyak menelepon orang tua. Mengirim pesan pendek, mengirim foto lewat whatsapp, dan sedikit-sedikit menyaring apa yang perlu diceritakan ke Mama dan apa yang tidak. Menjadi orang tua, saya belajar bahwa di saat anak bahkan sudah sembuh, rasa sakit di hati ibu seringkali masih bertahan. Ini juga hasil didikan Si Roti Sikaya biar tidak jadi beban pikiran orang tua, katanya.

Tentang menjadi ibu, setiap kali ditanya apa rasanya, jawaban saya selalu: punya anak seperti membuka kunci salah satu pintu di diri saya yang sebelumnya tidak pernah saya sadari keberadaannya. Pintu menuju ruang yang sangat luas, yang tidak pernah saya tahu bahwa saya bisa menampung ruangan sebesar ini di dalam hati.

Dan Roti Srikaya... Dia sahabat, yang menyebalkan setengah mati, yang sering lupa membuang sisa nasi ke bak cuci piring, padahal saya, yang jorok ini, entah kenapa paling geli liat nasi-nasi sisa. Dia yang seringkali harus dipaksa dengan omelan atau didiamkan seharian demi melakukan sesuatu untuk kebaikannya, semacam kembali menulis. Saya dan dia kadang terlalu sama, tapi juga terlalu berbeda. Begitupun, empat tahun terakhir, tidak akan menjadi semenarik ini tanpa dia. :)

Happy Birthday, Ariza Ayu Ramadhani. You've done many things exceptionally well. So, have fun and don't  be too hard to yourself!