Minggu, 02 Agustus 2015

Jalan-jalan terus kapan belajarnya?



Trend-nya adalah, sebagian besar yang kuliah di luar negeri khusunya yang tidak dengan biaya sendiri alias beasiswa, sering mengunggah foto-foto jalan-jalan ke sanalah atau ke sinilah, dengan berbagai pose mulai yang ala turis sampai yang pose pura-pura gak peduli. Termasuk saya. Di unggahlah semua foto, mulai dari yang di dalam kota tempat kuliah, di London, juga di kota lain di Eropa. Ada juga foto kumpul-kumpul orang Indonesia, makan-makan, masak ini itu, nonton konser, belanja summer sale, intinya semua tampak indah.

Apa iya?

Ya enggaklah!

Orang-orang seperti saya ini, tipe yang nabung seumur-umurpun, gak cukup buat liat London Eye tiap musim atau liburan keliling eropa sebulan penuh. Saya dari kecil punya mimpi kepengen sekali hidup di luar negeri, merasakan hidup sehari-hari ya, bukan cuma sekedar berkunjung dan melihat indahnya aja. Karena itu, beasiswa jadi salah satu tujuan besar yang biar udah nikah, biar udah punya anak, tetap dikejar sampai dapat. Demi apa? Demi merasakan hidup di negara maju, dengan segala kemudahan dan permasalahannya. Saya kepingin pikiran saya luas, bukan sekedar karena sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, tapi lebih karena mengalami banyak hal yang sebelumnya cuma dibaca lewat buku atau ditonton di tivi. Jadi, setelah sampai di titik ini, saya merasa layak merayakan terkabulkannya mimpi-mimpi itu.

Lalu, susahnya apa?

Banyak!

Mulai dari suhu dingin yang benar-benar tidak terbayangkan, karena sebelumnya sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke Eropa sampai homesickness yang benar-benar menyakitkan. Padahal sejak tahun 2003 saya jauh dari orang tua, tapi kombinasi antara culture shock, weather shock, dan shock-shock yang lain itu menghasilkan homesick yang mengerikan. Waktu suami dan anak belum nyusul ke sini, pernah saya sampai gak mau keluar dari kamar untuk bersosialisasi. Pikiran saya tahu bahwa saya harus kuliah karena ini mimpi saya, tapi hati saya entah ada di mana. Setelah ada anak dan suami, beberapa masalah terpecahkan, tapi masalah lain mulai bermunculan. Bagaimana mesti bagi waktu, bagaimana harus belajar buat ujian, di saat suami sakit, gak ada pembantu, jauh dari orang tua, mau nitipin anak ke temen juga temennya lagi sama-sama ujian, sementara masih harus masak, karena kalau beli mahal.  

Kadang pas jalan kaki pulang dari kampus, membayangkan rumah udah rapi, cucian piring udah bersih, makanan udah siap, kalaupun belum bisa mampir warung beli nasi padang, dan semua kemudahan yang ada di tanah air. Namanya juga manusia ya, bohong kalau bisa menerima segala sesuatu apa adanya tanpa terkecuali. Haha.


Cuma kan kalau susah-susahnya sering di-posting, sering dikeluhkan di sosial media, apa kabar orang tua yang jauh di sana? Kita seneng-senengpun yang di sana kepikiran, apalagi kalau sering mengeluh ini itu di facebook. Ada orang-orang yang benar-benar saya pedulikan, yang saya harap cuma senyum yang tertinggal tiap melihat atau mendengar kabar dari saya. 

Terus, kapan belajarnya?

Saya kasih tau ya, nggak usah khawatir sama kita-kita. Urusin aja urusan situ yang gak kalah banyaknya! ;-)